إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسناوشيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إلهإلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، صل الله عليه وعلي الهوسلم يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون يا أيها الناس اتقواربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالاً كثيراًونساءً واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيباً يا أيها الذين آمنوااتقوا الله وقولوا قولاً سديداً يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطعالله ورسوله فقد فاز فوزاً عظيماً اما بعد Sesungguhnya segala puji (hanyalah) bagi Allah, kami memujiNya, kami memohon pertolongan kepadaNya, dan kami memohon ampunan (hanyalah) kepadaNya. kami pun berlindung dari keburukan diri-diri kami dan kejelekan amal-amal kami. barangsiapa yang diberi petunjuk Allah maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan maka tiada yang dapat menberinya petunjuk. aku bersaksi bahwasannya tiada Ilah -yang berhak disembah- kecuali Allah saja, Yang tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan (sekaligus) utusanNya. Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepada beliau dan keluarganya. Allah berfirman (yang artinya) : "Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan taqwa yang sebenar-benarnya, janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan islam." [Ali Imraan : 102] "Hai sekalian manusia bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dair diri yang satu (Adam), dan daripadanya Allah menciptakan isterinya (Hawa); dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan ) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharaah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasikamu." [An-Nisaa' : 1] "Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." [Al-Ahzab : 70-71] amma ba'du : sesunggunya sebenar-benar perkataan adalah kalamullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (perkara baru dalam agama) dan setiap yang diada-adakan adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat... Shahih HR Bukhari (2652) and Muslim (2533)

Saturday, January 28, 2006

Al-Ilmu, Sebelum Berkata dan Beramal


Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.?(QS. Az-Zumar :9)
Kita semua sepakat bahwa sebuah gedung yang tinggi pasti memerlukan banyak ahli ilmu teknik bangunan yang mereka benar-benar ahli alias berilmu dalam bidangnya dan berpengalaman agar gedung itu berdiri dengan kuat, kokoh dan awet. Juga seseorang yang mengobati penyakit haruslah berpendidikan kesehatan (dokter) Namun ketika orang-orang ditanya bagaimanakah membangun umat Islam ini ? Maka mayoritas orang tidak terlalu memikirkan bagaimana kapasitas da'i pembangun umat ini apakah mereka berilmu tentang dien/agamanya yang akan dida'wakan atau tidak ? Dan ini adalah musibah.. Innalillahi wa innailaihi rojiun..
Ilmu merupakan sandi terpenting dari hikmah. Sebab itu, Allah memerintahkan manusia agar mencari ilmu atau berilmu sebelum berkata dan beramal.........

baca selengkapnya......










Friday, January 27, 2006

JANGAN SALAH PAHAM


Salah paham adalah buah penyakit akibat dangkalnya ilmu ,serta keterburu-buruan dalam menyimpulkan sesuatu tanpa tabayyun terlebih dahulu,banyak akibat yang di timbulkan oleh sikap yang satu ini, sebab dalam hal apapun segala sesuatu haruslah di dasari dengan ilmu apalagi sesuatu itu erat kaitannya dengan masalah agama ,terlebih masalah-masalah yang urgent dalam ISLAM ,maka sungguh agung bab yang ditulis oleh IMAM ALBHUKARY dalam bab"AL ILMU QABLAL QAUL WAL 'AMAL bahwasannya ilmu itu di dahulukan sebelum perkataan dan perbuatan.
Tidak hanya terbatas pada individu yang missunderstanding saja,,penyakit ini akan kian menggerogoti qalbu hingga keluarlah sesuatu yang sepantasnya tidak di ungkapkan apalagi dalam ruang publikasi hingga akan menimbulkan kesalahpahaman pula bagi mereka yang belum memiliki pengetahuan yang cukup....
maka ingatlah" fas-alu ahladz dzikri in kuntum la ta'lamun (bertanyalah kepada yg tau/'ulama jika kamu tidak mengetahui)."agar senantiasa kita bersabar untuk menahan diri dalam hal-hal yang belum kita ketahui tentangnya dan senantiasa bersabar dalam menuntun diri kita untuk terus tholabul ilmu..
Tetapi tidak semua berakibat buruk ,bila kebenaran adalah pangkal dari segala tujuan dan pencaharian kita yang senantiasa di ikuti dengan sikap tawakkal dan tawadhu serta doa yang selalu mengiringinya untuk mengharapkan ridha dan wajjah ALLAH tabaraka wa ta'alaa...maka silahkan kepada ikhwah sekalian membaca tulisan berikut sebagai salah satu contoh realita kesalahpahaman yang di sajikan dalam dua bagian berikut semoga bermanfaat ..... barakallahu feekum
bagian pertama

selanjutnyabagian kedua dan terakhir




Monday, January 16, 2006

fenomena sajadah


Segala puji bagi Allah azza wa jalla ,shalawat dan salam kepada rasululllah shallallahu 'alaihi wasallam beserta keluarga ,sahabat sahabatnya dan umatnya yang mengikutinya hingga hari akhir...
Ada dua kaidah dalam beragama yang di tetapkan oleh ulama yang senantiasa wajib bagi kita untuk mengetahui serta memahaminya agar kita tidak menyimpang dari syariat islam ini yaitu bahwa:
-- Hukum asal ibadah adalah terlarang/haram sampai datangnya dalil /keterangan
-- Hukum asal muamalah /sarana adalah boleh sampai datang dalil atau keterangan yang mengharamkannya atau melarangnya. maka bila kita mengetahui kaidah ini niscaya kita tidak akan berhujjah dgn mengatakan suatu perkataan yg tidak layak di lontarkan bagi seorang penuntut ilmu seperti mereka yg mengatakan "kalau peringatan ini itu bid'ah...berdzikir seperti ini bid'ah dll, maka mobil, mushaf alqur'an,microphone,,juga bid'ah dong....."
SUBHANALLAH maka cukuplah kaidah ini menjadi dasar hujjah u/ mematahkan perkataan tsb.dan katakanlah laukana khoyron lasabakuuna ilaihi( kalau sekiranya perbuatan itu baik niscaya para sahabat telah mendahului kita)...
berangkat dari kaidah kaidah di atas ana mencoba mengulas satu bahasan yang sempat beberapa hari di pertanyakan oleh seorang ikhwan di milist assunnah mengenai sajadah...meski begitu perlu kita ketahui bahwa dalam masalam masalah fiqh banyak sekali pendapat2 ulama bila memang masalah tsb adalah masalah masalah yang di ikhtilafkan.maka ana sarankan buat ikhwah sekalian untuk membaca kitab2 atau artikel2 ttg adab adab dalam ikhtilaf yang juga ana posting di blog ini.
tulisan ini hanya bagian dari bentuk pemaparan hujjah ana terhadap fenomena sajadah semoga bermanfaat:
Di dalam buku sifat sholat nabi syaikh albany penerbit media hidayah di halaman 105 dalam bab memandang tempat sujud dan khusu' beliau rahimahullah membawakan banyak hadits berkenaan dgn ini ana bawakan salah satu nya dan silahkan rujuk ke dalam kitab tsb bagi ikhwah yg pengen mengetahui hadits2 nya lebih detail :
nabi bersabda"Allah akan senantiasa menghadap ke wajah hamba-Nya yang sedang shalat selama ia tidak menoleh ke kanan atau kekiri .Jika hamba itu memalingkan wajahnya,Allah pun akan berpaling darinya"
(HR> Abu dawud dll di sahkan oleh ibnu khuzaimah dan ibnu hibban)

berdasar kan hadits hadits ttg memandang tempat sujud dan khusyu' maka niscaya kita bisa mengambil banyak pelajaran di antaranya bahwa kekhusyu'an adalah bagian dari kesempurnaan dan kelezatan dalam menjalankan ibadah shalat. Salah satu dari sekian banyak tuntunan adalah menyingkirkan sesuatu yang terjangkau oleh indera mata yang dapat melalaikan . Dalam kitab al jami' fii fiqhi an -nisa (fiqh wanita) , Syaikh Kamil Muhammad 'uwaidah memasukkan masalah ini ke dalam bab Hal- hal yang di makruhkan dalam shalat dengan membawakan dalil seperti yang di riwayatkan dari Aisyah ,dimana ia menceritakan,bahwa Rasulullah pernah mengerjakan shalat beralaskan kain hitam persegi empat yang bergambar,maka beliau berkata:
"Gambar-gambar ini melalaikanku (dari shalat),bawalah kainku ini kepada Abu jahm bin Hudzaifah dan bawakanlah untukku kain tebal yang tidak ada gambarnya" (HR.Bhukari.Muslim dan Abu Dawud).
catatan:**( di dalam buku sifat sholat nabi syaikh albany yang di maksudkan kain di atas adalah baju wool yg bergambar dengan lafadz hadits nya sbb:
" Kembalikan baju woolku ini kepada abu jahm dan tukarkanlah dgn baju tebal yang tidak bergambar dari abu jahm karena baju ini mengganggu shalatku.(dalam riwayat lain di sebutkan:" dalam shalat aku melihat gambar tsb dan hampir saja merusak kekhusyu'anku)


Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga pernah bertutur kepada Aisyah:
"Singkirkanlah tiraimu itu dari kami,karena gambar-gambarnya mengangguku dalam mengerjakan shalat" (HR.Bhukari).
dibagian bawah kitab tsb juga di berikan catatan kaki bahwa " Menjadi suatu ironi justru sajadah -sajadah yang kita kenal dan pakai sehari- hari di penuhi gambar-gambar masjid dan bukannya polos saja"
Di dalam kitab mausuu'ah al-manaahiyyisy syar'iyyah fii shahiihis sunnah an-nabawiyyah syaikh salim bin 'ied al-hilali dengan hadits yang sama diatas namun dalam lafadz terjemahan yg berbeda di mana yg di maksud kain dalam terjemahan kitab ini adalah jubah yang bercorak..beliau menuliskan kandungan bab hadits tsb yaitu:
1. makruh hukumnya shalat dgn mengenakan pakaian bercorak atau bergaris2.Imam an -nawawy berkata dlm kitab al-majmu'(111/180):"adapun pakaian yg padanya terdapat lukisan,salib atau hal2 yg dapat mengganggu,makruh hukumnya shalat dgn mengenakannya atau menghadap kepadanya,berdasarkan hadits tsb ."
2.Gambar dan hal2 yg menarik perhatian memberi pengaruh yg sangat kuat terhadap hati dan jiwa yg bersih.Jubah yg bergaris2 saja telah memberi pengaruh terhadap Rasulullah shallallahu 'alahi wassalam.Dan hampir saja mengganggu sholat beliau ,bagaimana pula dgn selain beliau?
3.makruh hukumnya shalat di rumah yg terdapat gambar didalamnya karena dpt mengganggu shalat.bila itu saja hukumnya makruh tentu terlebih lagi bila ia mengenakan gambar itu pada bajunya.
4.makruh hukumnya shalat mengenakan sesuatu yang bergambar atau menghadap gambar.karena dapat mengganggu hati dari kesempurnaan khusyu'.Padahal hanya dengan kekhusyu'an ia dapat mentadabburi dzikir2 dalam shalat dan dapat mengerti inti dan maksudnya,wallahu a'laa wa a'lam.

Thursday, January 12, 2006

NAMA KUNYAH

Pertanyaan
Ustadz,
Apa hukum nama kunyah itu?
Apakah harus sudah mempunyai anak?
Apa adab-adab dalam membuat nama kunyah?
Jawaban Ustadz
(2)Dari Anas bin Malik “Rasulullah sering menemui kami. Aku punya adik yang berkunyah Abu ‘Umair. Dia punya seekor burung yang sering dipakai untuk bermain. Suatu hari Nabi datang setelah burung tersebut mati. Beliau melihat Abu ‘Umair bermuram muka. Nabi lantas bertanya kepada kami ‘ada apa dengannya ?’ ‘burungnya mati’, sahut kami. Nabi lalu bersabda ‘hai Abu ‘Umair apa yang telah dilakukan oleh burungmu ?’” (HR. Bukhori, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi, Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 7830).
Kunyah adalah nama yang dimulai dengan ABU atau UMMU. Ada juga ulama yang mengatakan termasuk juga nama yang diawali dengan saudara/paman…, kunyah terkadang untuk memuji sebagaimana sahabat Nabi yang dulunya berkunyah Abu Hakam, terkadang untuk mencela semacam Abu Jahal, terkadang disebabkan karena membawa sesuatu semisal Abu Hurairah dan terkadang hanya sekedar nama semisal Abu Bakar dan Abul Abbas Ibnu Taimiyyah, padahal Ibnu Taimiyyah tidak mempunyai anak (lihat Al-Qoul Al-Mufid ‘Ala Kitab At-Tauhid 2/169, Maktabah Al-‘Ilmi). Dalam syarah Muslim 14/129, Imam Nawawi mengatakan “pelajaran yang bisa dipetik dari Hadits sangat banyak sekali. Diantaranya menunjukkan bahwa kunyah untuk orang tidak punya anak itu diperbolehkan, juga menunjukkan bolehnya kunyah untuk anak kecil dan hal tersebut tidak termasuk kebohongan’ (Dari Ahkam Ath-Thifli hal. 165).
Dalam Tuhfatul Aba’ dinyatakan “Hadits di atas menunjukkan bahwa anak kecil boleh punya kunya. Anak kecil yang suka bermain dengan burung dalam Hadits di atas berkunyah Abu ‘Umair, bahkan Nabipun memanggilnya dengan kunyah tersebut. Ini termasuk adab arab yang bagus. Kunyah untuk anak kecil itu berfungsi mengangkat dirinya, meningkatkan kecerdasannya dan menyebabkan dia merasa dihargai” (Tuhfatul Aba’ Bima Warada fi Tarbi Yatul Aulad, Dar Al-Qasim hal. 33).
Jadi Hadits di atas menunjukkan bahwa anak kecil boleh diberi kunyah, lihat juga Ahkam Ath-Thifli, Darul Hijrah hal. 164.
(3)Nabi shollahu’alaihiwasallam bertanya kepada seorang sahabat, beliau berkunyah Abul Hakam padahal Al-Ahkam adalah nama Allah, ‘apakah engkau mempunyai anak ?’, sahabat tersebut menjawab ‘Syuraih, Muslim, dan Abdullah’, ‘siapa yang paling tua diantara ketiganya ? lanjut Nabi, ‘Syuraih’ kata sahabat tersebut. Nabi bersabda ‘jika demikian maka engkau adalah Abu Syuraih’ (HR. Abu dawud dan Nasai, dishahihkan oleh Al-albani dalam Al-Irwa’ no. 2615).
Dalam Ahkam Ath-Thifli dinyatakan “Hadits ini menunjukkan bahwa berkunyah dengan nama Allah semisal Abul Ahkam dan Abul ‘Ala adalah tidak dibolehkan” (Ahkam Ath-Thifli karya Ahmad Al-Isawi hal. 165). Syaikh Utsaimin mengatakan “Hadits di atas tidak menunjukkan bahwa berkunyah itu dianjurkan karena Nabi ingin mengubah sahabat tersebut dengan kunyah yang diperbolehkan dan Nabi tidak memerintahkan berkunyah pada awal mulanya” (Al-Qoul Al-Mufid 2/170).
Abdurrahman bin Muhammad bin Qosim mengatakan “Dalam Hadits di atas Nabi memberi kunyah dengan anak yang paling tua dan itulah yang sesuai dengan sunnah sebagaimana terdapat dalam beberapa Hadits. Jika tidak memiliki anak laki-laki maka dengan nama anak perempuan yang paling tua. Ketentuan ini juga berlaku untuk kunyah seorang perempuan” (Hasyiah Kitab At-Tauhid hal. 318).
Jadi, diantara adab yang berkenaan dengan nama kunyah adalah :
Tidak boleh berkunyah dengan nama Allah semisal Abul A’la (Al-Maududi)
Kunyah itu dengan nama anak laki-laki yang paling tua. Jika tidak ada anak laki-laki maka dengan nama anak perempuan yang paling tua
Orang yang belum atau tidak punya anak boleh berkunyah. Oleh karena itu anak kecil yang jelas belum menikah diperbolehkan untuk berkunyah. Tidak boleh berkunyah ‘Abul Qosim’ berdasarkan Hadits Rasulullah Shollahu’alaihiwasallam “Hendaklah kalian bernama dengan nama-namaku tetapi jangan berkunyah dengan kunyahku (Abul Qosim)” (HR. Bukhori no. 3537 dll). Ibnul Qoyyim mengatakan “pendapat yang benar bernama dengan nama Nabi itu diperbolehkan. Sedangkan berkunyah dengan kunyah Nabi itu terlarang. Berkunyah dengan kunyah Nabi saat beliau masih hidup itu terlarang lagi. Terkumpulnya nama dan kunyah Nabi pada diri seseorang juga terlarang (Zaadul Ma’ad, 2/317, Muassasah Ar-Risalah). Beliau juga mengatakan “kunyah adalah salah satu bentuk penghormatan terhadap orang yang diberi kunyah… diantara petunjuk Nabi adalah memberi kepada orang yang sudah punya ataupun yang tidak punya anak. Tidak terdapat Hadits yang melarang berkunyah dengan nama tertentu kecuali berkunyah dengan nama Abul Qasim” (Zaadul Maad, 2/314). Imam Ibnu Muflih berkata, “diperbolehkan berkunyah meskipun belum memiliki anak” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih 3/152, Muassasah Ar-Risalah).

sumber:www.muslim.or.id

Sunnahkah Memanjangkan Rambut???

Fatwa Syeikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah
Alih bahasa : Muhammad Elvi Syam, Lc

Pendahuluan :

Makalah ini diambil dari rubrik tanya jawab Syeikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani –rahimahullah- dari Majalah As-Asholah, edisi ke-12, tgl, 15 –Shofar- 1415H, hal : 54. Rubrik ini diawali dengan bahasan seorang penuntut ilmu tentang hukum botak, kemudian Syeikh Al-Albani menanggapi bahasan tersebut, dan menerangkan hukum memanjangkan rambut, adapun judul bukan dari judul asli tapi judul dari penerjemah - pent.

Isi dari Makalah :

Seorang dari kalangan penuntut ilmu bertanya :

"Kebanyakan dari para pelajar sekolah bertanya-tanya, tentang hukum meninggalkan (memanjangkan) rambut kepala dan hukum membotakannya. Permasalahan ini menjadi kabur bagi mereka ; antara apa yang diperintahkan dan ditekankan oleh (peraturan) sekolah kepada mereka, berupa kewajiban membotak rambut kepala atau mencukur terlalu pendek (cepak), dan antara apa yang mereka lihat dari sebagian guru-guru yang konsisten dalam beragama, - kita tidak mensucikan diri seseorang melebihi tazkiah Allah – membiarkan rambut kepala mereka (hingga panjang), tanpa dipotong. Guru-guru tersebut selalu membersihkan dan menyisirnya. Mereka sudah terbiasa membiarkannya (panjang)".

Maka saya mengatakan (penulis makalah), - dengan memohon pertolongan kepada Allah - : Sesungguhnya memanjangkan rambut adalah sunnah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad – rahimahullah taala - : " memanjangkan rambut itu adalah sunnah, seandainya kita mampu pasti kita sudah memanjangkannya. Akan tetapi hal ini butuh beban dan perhatian." Ibnu Qayim dalam kitabnya (Zadul Maad) berkata: "Rasulullah tidak diketahui membotak kepala , kecuali dalam ibadah (haji dan umrah)."

Sesungguhnya sudah datang hadits-hadits shohih yang menerangkan akan sifat (model) rambut Rasulullah – Alaihi as-sholatu was-sallam - . Di dalam kitab (Al-Mughni), dikatakan; "Dan rambut manusia itu disukai seperti model rambut Nabi –Sholallahu alaihi wa sallam - , apabila panjang sampai ke bahu, dan apabila pendek sampai ke cuping telinganya. Kalau dipanjangkan tidak apa-apa. Imam Ahmad telah menyatakan seperti itu."

Saya mengatakan (penulis makalah) : sesungguhnya memanjangkan rambut itu mesti mempunyai beberapa hal yang harus diperhatikan, di antaranya :

1. Ikhlas karena Allah Taala, dan mengikuti petunjuk Rasul, supaya mendapatkan balasan dan pahala.

2. Dalam memanjangkan rambut tersebut, hendaknya tidak menyerupai wanita, sehingga dia melakukan apa yang dilakukan wanita terhadap rambutnya, dari jenis dandanan yang khusus bagi wanita.

3. Dia tidak bermaksud untuk menyerupai ahli kitab ( kristen dan yahudi ), atau penyembah berhala, atau orang-orang yang bermaksiat dari kalangan muslimin seperti seniman-seniman dan artis (panyanyi dan pemain film), atau orang-orang yang mengikuti langkah mereka, seperti bintang olah raga, dalam model potongan rambut mereka serta dandanannya.

4. Membersihkan rambut,dan menyisirnya sekali dua hari. Dianjurkan memakai minyak dan wangi-wangian serta membelahnya dari pertengahan kepala. Apabila rambutnya panjang dia menjadikannya berkepang-kepang.

Adapun botak, Syeikh Ibnu Taimiyah telah membahas secara terperinci. Dia membagi pembahasannya menjadi empat bagian. Ringkasan pembahasannya (secara bebas ) :

Apabila botak itu karena melaksanakan haji, umrah, atau untuk kebutuhan seperti berobat, maka hal ini sudah konsisten dan disyariatkan, berdasarkan Al-Kitab (Al-Quran) dan Sunnah, bahkan tidak ada keraguan dalam pembolehannya.

Adapun selain itu, maka hal tersebut tidak akan keluar dari salah satu, dari dua permasalahan :

Pertama : Dia membotaknya berdasarkan (beranggapan botak itu) adalah ibadah, (cermin) keagamaan, atau kezuhudan, bukan karena haji atau umrah. Seperti orang menjadikannya botak itu sebagai simbol dari ahli ibadah (orang yang banyak ibadahnya) dan ahli agama. Atau dia menjadikannya sebagai simbol kesempurnaan zuhud dan ibadah. Maka dalam hal ini, Syeikh Islam telah berkata : " Membotak kepala adalah bidah yang tidak pernah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan bukan pula hal yang wajib atau disukai oleh seorang pun dari pemimpin-pemimpin agama. Tidak pernah diperbuat oleh salah seorang dari shohabat-shohabat dan pengikut mereka dengan baik. Juga tidak pernah dilakukan oleh syeikh-syeikh kaum muslimin yang terkenal dengan kezuhudan dan ibadah; baik (mereka) itu dari kalangan shohabat, tabiin, dan tabi tabiin serta orang-orang sesudah mereka."

Kedua : Dia membotakkan kepala bukan pada saat ibadah haji atau umrah, dan bukan karena kebutuhan ( berobat ), serta bukan juga atas dasar mendekatkan ( diri kepada Allah ) dan ritual, dalam masalah ini ulama mempunyai dua pendapat :

Pendapat yang pertama : Karahiyah ( dibenci ). Pendapat ini adalah mazhab Malik, dan lainnya. Juga salah satu riwayat dari Ahmad. Beliau berkata : "Mereka ( ulama ) membenci hal itu ( botak tanpa sebab )". Hujjah orang yang berpendapat dengan pendapat ini adalah bahwa membotakkan kepala adalah syiar (simbol ) Ahli bidah ( khawarij ). Karena khawarij membotakkan kepala mereka. Sungguh Nabi – shollallahu alaihi wa sallam – telah bersabda tentang mereka : "Ciri-ciri mereka adalah botak ". Sebagaimana sebagian orang khawarij menganggab botak kepala itu merupakan bagian dari kesempurnaan taubat dan ibadah. Di dalam kitab shohih Bukhori dan Muslim disebutkan : " sesungguhnya tatkala Nabi - shollallahu alaihi wa sallam – membagi (harta rampasan perang ) pada tahun fath ( pembebasan Mekah ), dia didatangi seorang laki-laki yang jenggotnya lebat lagi ( kapalanya ) botak. Di dalam musnad Imam Ahmad diriwayatkan dari Nabi – Shollallahu alaihi wa sallam – " Bukan dari golongan kami orang yang membotak kepala ". Ibnu Abbas berkata : " Orang membotakkan kepalanya di seluruh negeri adalah syaitan ".

Pendapat yang kedua : Mubah ( dibolehkan membotakkan kepala ). Pendapat ini terkenal di kalangan pengikut Abu Hanifah dan Syafii. Juga merupakan riwayat dari Ahmad.

Dalil mereka adalah, apa yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud dan Nasai, dengan sanad yang shohih – sebagaimana yang dikatakan oleh pengarang kitab "Al- Muntaqo" – dari Ibnu Umar, " sesungguhnya Nabi – shollallahu alaihi wa sallam – melihat seorang anak ( bayi ) sebagian kapalanya sudah dibotak dan sebagian yang lain ditanggalkan ( tidak dibotak ), maka dia melarang dari perbuatan tersebut, lantas bersabda " Cukurlah keseluruhannya ( botak merata ) atau biarkan keseluruhannya ( tidak dicukur sama sekali )". Dan ( juga ) dihadapkan kepada baliau – shollallahu alaihi wa sallam – anak-anak yang kecil setelah tiga ( hari dari kelahirannya – pent ) lalu membotakkan kepala mereka.

Dan karena dia – shollallahu alaihi wa sallam – melarang dari Qaza. Qaza itu adalah membotak sebagian ( kepala ). Maka hal ini menunjukkan bolehnya membotak secara keseluruhan. Syaukani – rahimahullah – berkata di dalam kitab "Nail Authoor " di waktu dia berbicara tentang hadits yang dicantumkan oleh pengarang "Al-Muntaqo" tadi : " Di dalam hadits tadi terdapat dalil bolehnya membotakkan kepala secara keseluruhannya. Ghazali berkata, " Tidak apa-apa ( membotakkan kepala ) bagi siapa menginginkan kebersihan. Dan di dalam hadits itu ( juga ) terdapat bantahan kepada orang yang membencinya ( botak )".
Di dalam kitab "Al-mughni " disebutkan : "Hanbal berkata : "Aku dan bapakku membotak kepala kami, semasa hidup Abu Abdillah ( Imam Ahmad ), lantas dia melihat kami dan tidak melarang kami". Ibnu Abdul Barri berkata :" sungguh ulama telah sepakat (ijma) atas bolehnya botak" dan ini cukup dijadikan sebagai hujjah".

Saya mengatakan ( penulis makalah ) – wabillahi at-taufiq - : pendapat yang kedua ini yang kuat bagiku, karena keshohihan dan terang ( jelas ) riwayat-riwayatnya, wallahu alam.
Adapun peraturan sekolah untuk melarang semua pelajar memanjangkan rambut kepala, maka peraturan ini hanya merupakan tindakkan menutup celah ( perantara kejelekan ) dan menolak kerusakkan. Hal itu disebabkan apa yang dilihat sekolah dari sekolompok pelajar -yang tidak sedikit- mereka memanjangkan rambut bukan karena sunnah, tetapi karena meniru dan mencotoh orang - orang tenar dari kalangan seniman yang tak tahu malu, serta bintang olahraga, baik dari kaum muslimin atau lainnya, dengan membentuk rambut kepala seperti model rambut orang-orang tenar tersebut, sebagai ungkapan cinta dan kagum terhadap corak kehidupan mereka.

Bahaya-bahaya pelajar yang mencontoh ini, tidak hanya sebatas diri mereka sendiri, malahan akan menjalar ke teman-teman mereka di sekolah. Karena mereka terpengaruh oleh tingkah laku yang arogan ini, sehingga menyebabkan hanyutnya jiwa-jiwa yang lemah dari para pelajar, terutama dari pantaran mereka. Apalagi pada umur ini, mereka dikalahkan oleh kelabilan mereka dalam pergaulan, serta keinginan yang banyak. Juga karena terlalu cepat terpengaruh, serta tergesa-gesa mengambil keputusan. Maka anda akan menemukan seorang pelajar pada umur ini (masa ini ) lebih banyak terpengaruh oleh temannya di sekolah ketimbang dari guru-gurunya atau orang tuanya sekalipun. Wallahu alam.


Jawaban (komentar Syeikh Al-Albani terhadap makalah diatas).

Segala puji bagi Allah dan sholawat dan salam atas Rasulullah, keluarganya, dan sahabat-sahabatnya, serta orang yang mengikuti petunjuknya.

Amma badu : Sesungguhnya saya menyokong dengan sokongan yang kuat, akan nas (penyataan) yang disebutkan di penghujung fatwa ini (makalah di atas). Karena pernyataan tersebut bersandarkan kepada kaidah syariyah yang penting, yaitu : "menolak kerusakkan (kerugian ) sebelum ( lebih didahulukan dari pada ) mengambil kemashlahatan ( keuntungan )". Apalagi jika di sana tidak ada suatu mashlahat pun, kecuali mencontoh orang-orang kafir atau orang-orang fasiq ?. Sungguh Nabi – shollallahu alaihi wa sallam – telah bersabda dalam hadits yang shohih :

Artinya :" barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia itu dari golongan mereka "
Dan terdapat hadits-hadits yang banyak yang semakna dengan hadits ini, di bermacam-macam bab ( sub bahasan ) di dalam syariat Islam. Saya telah sebutkan di antaranya kira-kira 40 hadits di dalam kitab saya " Hijabul- Mar-ah Muslimah ( Hijab Wanita Muslimah ) yang belakangan saya cetak dengan judul " Jilbaabul – Mar-ah Muslimah " (Jilbab Wanita Muslimah). Oleh karena itu saya selalu berfatwa bahwasanya tidak boleh bagi pemuda-pemuda dan para pelajar untuk membiarkan (memanjangkan) rambut kepala mereka. Tetapi mereka harus membotak atau memendekkannya. Sebagaimana yang diperbuat kebanyakan muslimin. Wa billahit – taufiq.
Tidak ada lagi bagi seseorang pun, untuk mengatakan pada zaman sekarang, bahwa membotak itu hukumnya makruh. Karena tidak ada dalilnya kecuali hal tersebut merupakan simbol kaum khawarij. Sedangkan mereka sekarang pun – di antaranya Ibadhiyah – tidak berpegang teguh lagi ( tidak

SHALAT TANPA MENGENAKAN PENUTUP KEPALA


Boleh melakukan shalat dengan membuka kepala bagi kaum laki-laki. Sebab kepala hanya menjadi aurat bagi kaum wanita bukan untuk kaum pria. Namun demikain disunnahkan bagi setiap orang yang melakukan shalat untuk mengenakan pakaian yang layak dan paling sempurna. Di antara kesempurnaan busana shalat adalah dengan memakai 'imamah' (kain surban yang diikatkan ke kepala), songkok atau sebagainya yang biasa dikenakan di kepala ketika beribadah.Tidak memakai penutup kepala tanpa udzur (keadaan yang terpaksa) makruh hukumnya. Terlebih ketika melaksanakan shalat fardhu, dan teristimewa lagi ketika mengerjakan dengan berjama'ah.
[Fatawa Muhammad Rasyid Ridha V/1849 dan Al-Synan Wa Al-Mubtadi'aat hal. 69]
Al-Albani berkata : "Menurut pendapatku, sesungguhnya shalat dengan tidak memakai tutup kepala hukumnya adalah makruh. Karena merupakan sesuatu yang sangat disunnahkan jika seorang muslim melakukan shalat dengan memakai busana Islami yang sangat sempurna, sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits : "Karena sesungguhnya Allah paling berhak untuk dihadapi dengan berhias diri". (Permulaan hadits di atas adalah : "Jika salah seorang dari kalian mengerjakan shalat, maka hendaklah dia memakai dua potong bajunya. Karena sesungguhnya Allah paling berhak untuk dihadapi dengan berhias diri".)Diriwayatkan oleh At-Thahawi di dalam Syarh Mas'aani Al-Aatsaar (I/221), At-Thabrani dan Al-Baihaqi di dalam Al-Sunnan Al-Kubraa (II/236) dengan derajat sanad yang hasan. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam Majma Al-Zawaaid (II/51). Lihat juga Al-Silsilah Al-Shahihah No. 1369.
Tidak pernah disebutkan sebuah riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memakai tutup kepala ketika shalat kecuali hanya ketika ihram. Barangsiapa yang menyangka beliau pernah tidak memakai imamah ketika shalat selain pada saat melakukan ihram, maka dia harus menunjukkan dalilnya. Dan yang benar itulah yang paling berhak untuk diikuti. [Al-Diin Al-Khaalis (III/214) dan Al-Ajwibah Al-Nafi'ah An Al-Masaail Al Waaqi'ah. hal.110]
Yang perlu disebutkan di sini adalah bahwa shalat tanpa mengenakan tutup kepala hukumnya makruh saja, sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Baghawi dan mayoritas ulama lain. [Lihat Al-Majmuu II/51]
Lengkapnya silakan membaca buku tersebut..[Al-Qawl Al-Mubiin Fii Akhthaa Al-Mushalliin, edisi Indonesia Koreksi Total Ritual Shalat yang ditulis oleh Syiakh Abu Ubaidah Masyhurah Ibn Hasan Ibn Mahmud Ibn Salman]
sumber : milist assunnah

petunjuk nabi dalam menggerakkan jari telunjuk


Masalah tahrik (menggerakkan jari) ini ada khilaf diantaranya ada orang yang menganggap hadits tahrik yg diriwayatkan oleh dari Zaaidah bin Qudamah dari Ashim bin Kulaib dari bapaknya dari Waail bin Hujr adalah syadz (ganjil) yaitu hadits shahih yang riwayatnya menyelisihi banyak riwayat perawi yang lebih tsiqah Berikut saya nukilkan dan ringkas agar tidak terlalu panjang tanpa mengurangi apa yang dikehendaki penulis, dari kitab kecil yang berjudul “Petunjuk bagi mereka yang menolak untuk menggerakkan jari telunjuk ketika tasyahud” terbitan Pustaka Abdullah , karya Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa. Kitab ini diberi kata pengantar oleh ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat Rujuklah ke kitab tersebut jika mau ..
.semoga bisa melegakan dahaga kita akan ilmu.
Ustadz Abdul Hakim berkata:
1. Riwayat Zaaidah bin Qudamah ini membuktikan kepada kita kebenaran firman Allah , bahwa Allah yang menjaga dan memelihara kitab-Nya yang mulia, tentunya termasuk didalamnya hadits atau sunnah yang kedudukannya sebagai penafsir Al-Qur’an, khususnya dalam masalah sholat yang sangat agung dan besar. Zaaidah bin Qudamah telah berjasa besar dalam menghidupkan salah satu sifat sholat Nabi yaitu menggerak-gerakan jari telunjuk ketika tasyahud awal dan akhir. Allah menghendaki sunnah Nabi dan Rasul-Nya tetap terjaga, meskipun hanya diriwayatkan oleh satu orang seperti Zaaidah bin Qudamah.
2. Sekaligus menunjukkan keutamaan Zaaidah bin Qudamah dari saudara-saudaranya sesama rawi dari hadits Waail bin Hujr sehingga beliau melebihi mereka dengan tambahannya tersebut
3. Juga menunjukkan kepada kita bahwa hadits mempunyai beberapa jalan (thuruq)
4. Juga menunjukkan kepada kita bahwa para rawi hadits berlebih kurang di dalammeriwayatkanhadits

==========================================
Penulis (Ibnu Saini) menjelaskan : Hadits menggerakkan jari telunjuk telah diriwayatkan dari jalan sahabat Waa-il bin Hujr oleh Ahmad, Bukhari dalam Qurratul ‘Ainain bi Raf’il Yadain fish sholah, dll yang berbunyi : “Aku (Waail bin Hujr) berkata: “Sungguh aku akan melihat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bagaimana beliau sholat ….. dan beliau mengangkat jari (telunjuknya), maka akupun melihat beliau menggerak-gerakkannya sambil berdoa dengannya,….” Penulis berkata : “Kemudian hadits Waa-il bin Hujr di atas telah disahkan oleh banyak ulama, sebagian mereka terang-terangan men-sah-kannya dan sebagiannya lagi hanya dengan isyarat. Adapun mereka yang tidak terang-terangan sangat banyak sekali, bahkan penulis tidak menemukan seorangpun dari kalangan ulama salaf yang men-dhaifkannya, Wallahu A’lam.
Diantara mereka yang terang-terangan mensahkannya adalah:
1. Imam Ibnu Khuzaimah, sebagaimana disebutkan dalam kitab sifat sholat Nabi, karya Imam Al-Albany
2. Imam Ibnu Hibban, sebagaimana disebutkan dalam kitab sifat sholat Nabi, karya Imam Al-Albany
3. Imam Nawawy dalam kitab Majmu’ Syarh Muhazzab
4. Imam Ibnu Abdil Bar
5. Sebagaimana juga Imam Al-Qurthubi telah menukil penshahihan Ibnu Abdil Bar di atas dalam kitab tafsirnya
6. Ibnul Mulaqqin
7. Al-Baihaqi
8. Ibnul Qayyim
9. Syaikh Abdurrahman Al-Banna (ayahanda Hasan Al-Banna) 1
0. Imam Al-Albani
11. Syaikh Hamdi bin Abdul Majid As-Salafi
12. Syaikh Ali Hasan
13. Syaikh Masyhur Hasan Salman
14. Syaikh Salim Al-Hilaly
15. Syaikh Syuaib dan Abdul Qadir Al-Arnauth
16. Syaikh Hamzah Ahmad Az-Zain
17. Syaikh Muhammad Jamil Zainu
18. Syaikh Ahmad Syarif
Dari hadits di atas, kita dapat mengetahui bahwa menggerakkan jari telunjuk ketika tasyahud telah tsabit (tetap) sunnahnya dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan hendaklah mereka yang mengatakan bahwa hal itu adalah perbuatan yang sia-sia yang tidak cocok untuk diamalkan dalam sholat, dan mereka yang suka mengolok-olok orang-orang yang mengamalkan itu berhenti dari perkataan dan olok-olokan mereka itu dan selanjutnya bertaubat kepada Allah. Karena pada hakikatnya mereka mengolok-olok Nabi yang mulia shallallahu alaihi wa sallam. Setelah kita mengetahui perkataan mereka (ulama, peny-) yang men-sahkan hadits di atas, maka apakah ada orang yang mendhaifkannya? Imam Al-Albany dalam salah satu ceramahnya menyatakan: “….Terakhir, aku katakan: Aku tidak mengetahui seorangpun dari para pendahulu umat ini yang terdiri dari para imam ahli hadits yang mendhaifkan hadits Zaaidah bin Qudamah atau hadits Waail bin Hujr dengan sangkaan bahwasanya hadits tersebut telah menyelisihi hadits-hadits riwayat yang lain. Mereka seluruhnya sepakat bahwasanya hadits ini shahih, ….seperti para penyusun kitab shahih, di antaranya Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Ibnul Jarud, .....Begitu juga mereka yang mentakhrij hadits ini , mereka tidak menyatakan sebagai hadits yang syadz” Kemudian beliau (syaikh Al-Albany) melanjutkan lagi : “ …Dan kritikan terhadap hadits ini , hanya ada pada masa kita sajaâ€
 Penulis katakan: “Diantara mereka yang mengkritik hadits ini adalah:
1. Nadwah majalah Al-Muslimun
2. Hasan As-Saqqaf
3. Mereka para ahli ilmu yang telah keliru dalam masalah ini, diantara nya adalah syaikh yang mulia Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah, yang diikuti oleh murid-murid beliau…..Mereka seluruhnya menyatakan bahwasanya tambahan riwayat Zaaidah bin Qudamah dalam hadits di atas (yakni tambahan Yuharrikuha yad’u biha – menggerakkan jari telunjuk … ) adalah tambahan hadits yang syadz”. Bantahan Bagi Mereka yang Mendhaifkan Hadits Tahrik (Menggerakkan jari telunjuk)
Penulis katakan: “….maka hendaknya kita melihat bagaimana penilaian para imam tentang Zaaidah bin Qudamah (seorang rawi dalam hadits Waail bin Hujr, peny-): Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: (Zaaidah bin Qudamah) tsiqatun tsabtun (perawi tsiqah lagi kuat) Imam Ibnu Hibban berkata: “Ia (Zaaidah bin Qudamah) termasuk dari para imam yang mutqin , ia tidak menganggap sebagai suatu sama’ (pendengaran), kecuali setelah mengulanginya sebanyak tiga kali dan ia tidak memuji seorangpun kecuali mereka yang telah disaksikan keadilannya oleh seorang (imam) dari Ahlusunnah.’ Kemudian Imam Al-Albani dalam salah satu ceramahnya mengatakan: “Oleh karena itulah tidak mudah bagi kita untuk menganggap syadz riwayat yang disampaikan oleh Zaaidah bin Qudamah ini, khususnya periwayatan yang ia terima dari gurunya Ashim bin Kulaib dari bapaknya …” Kemudian beliau (syaikh) menambahkan : “ …karena apabila kita menganggap (periwayatan dari seorang perawi yang tsiqah seperti Zaaidah bin Qudamah ini) syadz (Cuma karena tambahan yang ia riwayatkan tersebut), maka niscaya banyak sekali riwayat-riwayat yang harus dihukumi seperti itu” Penulis katakan : “Sekarang , mari kita lihat apakah periwayatan Zaaidah bin Qudamah ini menyelisihi periwayatan para perawi yang lebih tsiqah darinya atau tidak? Jawabnya adalah tidak, sebab lafazh “tahrik” (menggerakkan) itu tidak lah bertentangan dengan lafazh “isyarat’, baik ditinjau dari segi bahasa, maupun dari segi dalil: Pertama: Apabila ditinjau dari segi bahasa, dapat difahami oleh setiap orang bahwa isyarat terkadang disertai gerak dan terkadang tanpa disertai dengan gerak, seperti seseorang berisyarat kepada yang lainnya dari kejauhan agar orang itu mendekat kepadanya atau seperti seseorang yang berisyarat kepada orang yang berdiri agar duduk. Tidak seorangpun akan memahami bahwa orang yang berisyarat itu tidak menggerakkan tangannya ketika ia berisyarat, maka perhatikanlah ! Kedua; Apabila ditinjau dari segi dalil, maka telah diriwayatkan dari Aisyah tentang kisah sholatnya para sahabat di belakang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan cara berdiri, padahal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sholat sambil duduk, maka beliaupun mengisyaratkan kepada mereka untuk duduk semuanya……dan setiap orang pasti dapat dengan cepat memahami dari (lafazh) hadits tsb bahwasanya isyarat beliau itu tidak hanya dengan mengangkat tangan beliau saja, sebagaimana tindakan beliau ketika berisyarat untuk menjawab salam para sahabat Anshar ketika beliau dalam sholat ! Akan tetapi isyarat tersebut juga mengandung gerakan, maka tidak dibenarkan untuk mengatakan bahwasanya riwayat-riwayat yang menyebutkan isyarat tersebut bertentangan dengan riwayat tahrik. Bahkan dapat juga dikatakan bahwasanya riwayat-riwayat tersebut bersesuaian dengan riwayat tahrik, dan alas an inilah yang diperhatikan oleh mereka yang menshahihkan hadits ini serta mengamalkannya dan juga mereka menerima keshahihannya, namun mereka menta’wilnya, akan tetapi mereka yang menta’wil hadits ini tidak sekali-kali mengatakan hadits ini syadz.
Penulis berkata: “ ………..Ringkasnya adalah: Bahwasanya isyarat tidaklah menafikan (meniadakan) tahrik, bahkan terkadang keduanya sama-sama dilakukan, sebagaimana keterangan yang telah berlalu, maka pernyataan bahwasanya tahrik (menggerakkan) itu bertentangan dengan isyarat tidaklah benar, baik ditinjau dari segi ilmu bahasa maupun dari segi dalil. Dari keterangan ini dapatlah diketahui kekeliruan pendapat mereka yang mengatakan bahwasanya hadits ini syadz, walhamdulillah. Beberapa Alasan Lainnya dan jawabannya Dari Abdullah bin Zubair, sesungguhnya ia menyebutkan bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam berisyarat dengan jari telunjuknya dan tidak menggerak-gerakkannya. (hadits ini di dhaifkan oleh syaikh Albani dalam Dhaif Abu Dawud dan Dhaif Sunan Nasa’i) Dalam hadits lainnya dari riwayat Ibnu Umar yang berbunyi: “Dan beliau tidak menggerakkannya, sesungguhnya hal itu sebagai penghalau setan, lalu ia berkata: Bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berbuat seperti itu” (HR Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqat, didalam sanadnya terdapat Katsir bin Zaid, AlHafizh Adz-Dzahabi berkata dalam kitab Al-Kasyif : “Shaduq fihi liin (jujur, akan tetapi padanya ada kelemahan) Penulis berkata: “……..Dan telah jelas bagi kita tentang dhaifnya hadits Abdullah bin Zubair dan juga hadits Abdullah bin Umar yang didalamnya terdapat lafazh Laa Yuharrikuha dan shahihnya hadits Waail bin Hujr yang didalamnya terdapat lafazh ….Yuharrikuha…, maka kita harus meninggalkan riwayat yang dhaif (lemah) dan mengambil riwayat yang shahih, Allahu a’lam. Kalaupun kedua riwayat yang menyebutkan “tidak menggerakkan” tersebut di atas shahih, maka wajib untuk ditolak, karena dua sebab: Pertama, Kedua hadits tsb tidak jelas menyebutkan bahwa itu di dalam sholat Kedua, Kalaupun dikatakan bahwa kedua riwayat tsb di dalam sholat, maka riwayat tersebut berisi penolakan (An-Nafyu), sedangkan hadits tahrik berisi penetapan (Al-Itsbat) dan dalam kaidah ushul disebutkan: “Al-Mutsbitu Muqoddamun ‘Ala An-Naafy” (Penetapan itu lebih didahulukan daripada penolakan) Para ulama yang menetapkan kaidah ini beralasan bahwa riwayat yang berisi penetapan itu mengandung ilmu (tambahan), sebagaimana yang diungkapkan oleh para ahli ushul. Kesimpulan Akhirnya penulis berkesimpulan bahwa pendapat yang lebih kuat dalam permasalahan ini adalah: Berisyarat sepanjang tasyahud (sepanjang berdoa dalam tasyahud) dengan menggerakan jari telunjuk sampai selesai berdoa atau salam, dan ini adalah pendapat yang dipegang oleh Imam Malik dan sebagian besar ulama mazhab Malikiyah, dan juga pendapat yang dipegang oleh sekian banyak ulama di kalangan mazhab Syafi’i …sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawi dalam Majmu’ …Dan juga para ulama dikalangan mazhab Hambali…Dan juga para ulama yang lainnya , sebagaimana telah penulis terangkan sebelum ini, Wallahu a’lam……………………â€
¦

sumber : milits assunnah

Fikih Ikhtilaf [Memahami Perselisihan Menurut Al-Qur'an, Sunnah Dan Manhaj Salaf Shalih] 1/2

OlehSalim bin Shalih Al-Marfadi

Ikhtilaf memiliki beberapa makna yang saling berdekatan, diantaranya ; tidak sepaham atau tidak sama. Anda bisa mengatakan khalaftuhu-mukhalafatan-wa khilaafan atau takhaalafa alqaumi wakhtalafuu apabila masing-masing berbeda pendapat dengan yang lainnya. Jadi ikhtilaf itu adalah perbedaan jalan, perbedaan pendapat atau perbedaan manhaj yang ditempuh oleh seseorang atau sekelompok orang dengan yang lainnya.Kaidah-Kaidah Untuk Memahami Ikhtilaf [Perselisihan Pendapat][1]. Ikhtilaf Adalah Perkara Yang Kauni (Sunnatullah), Sedangkan Mencegahnya Merupakan Perkara Yang Syar'i.Dengan kehendak dan hikmah-Nya yang tepat, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menakdirkan ummat ini berpecah belah sebagaimana halnya (kaum) ahli kitab sebelumnya telah berpecah belah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman."Artinya : Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa beselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu, Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka" [Hud : 118-119]Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda."Artinya : Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, kaum Nashara terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan" [Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad dan lainnya]Dalam suatu riwayat :"Mereka semua di neraka kecuali satu millah, para shahabat bertanya : "siapakah dia ya Rasulullah ?" beliau menjawab : "(yaitu) orang-orang yang berada diatas jalanku dan shahabatku"Dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda."Artinya : Sungguh kalian pasti akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kamu, jengkal demi jengkal, hasta demi hasta sehingga seandainya mereka masuk kedalam lubang biawak, kalian pasti akan memasukinya (juga). Para shahabat bertanya : "Wahai Rasulullah, Yahudi dan Nashara-kah?". Beliau menjawab : "Siapa lagi ?" [Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim]Meskipun perpecahan ini terjadi sesuai dengan sunatullah yang kauni, namun (sebenarnya) Allah melarang terjadinya perpecahan ini dalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabi-Nya, memerintahkan supaya berpegang teguh pada jalan Firqatun Naajiyah Al-Manshurah (kelompok yang mendapat pertolongan), dan memberikan tanda-tanda pada golongan ini sehingga orang yang ikhlas hatinya dalam mencari kebenaran tidak akan tersesat (salah pilih).Ada sebagian orang yang meragukan keabsahan hadist iftiraq (perpecahan) ini, akan tetapi orang yang betul-betul memperhatikan jalur-jalur periwayatannya akan memastikan keabsahannya, terutama karena di sana terdapat hadits-hadits shahih yang masyhur yang menerangkan tentang keserupaan umat ini dengan umat-umat sebelumnya. Diantaranya yang paling menonjol ialah tentang fenomena munculnya iftiraq (penyimpangan) dari manhaj yang haq. Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala telah melarang tasyabbuh (menyerupai umat-umat terdahulu) ini dengan firman-Nya."Artinya : Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat" [Ali Imran : 105]Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah berkata : "Allah Subhanahu wa Ta'ala telah melarang umat ini menyerupai umat-umat yang telah lewat dalam iftiraq (perpecahan) dan ikhtilaf (perselisihan) mereka dan dalam meninggalkan amar ma'ruf serta nahi mungkar, setelah hujjah tegak atas mereka" [Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim I/390]Allah berfirman."Artinya : Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka" [Ar-Ruum : 31-32]Syaikh As-Sa'di berkata : "Padahal agama ini hanya satu yaitu memurnikan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, lalu orang-orang musyrik ini memecah-mecahnya, diantara mereka ada yang menyembah berhala dan patung, ada yang menyembah matahari dan bulan, ada yang menyembah para wali dan orang-orang shaleh, ada yang Yahudi dan ada yang Nasharani. Oleh karenanya Allah berfirman : [wakanuu syiyaan] maksudnya masing-masing golongan membentuk kelompok dan membuat ta'ashub (fanatisme) untuk membela kebathilan yang ada pada mereka, dan menyingkirkan serta memerangi kelompok lainnya. [kullu khizbin] masing-masing kelompok. [bimaa ladaiyhim] dengan ilmu (nya masing-masing) yang menyelisihi ilmunya para rasul, [farihuun] berbangga. Dengan sikap ini, masing-masing mereka menghukumi bahwa kelompoknyalah yang benar, sedangkan kelompok lain berada dalam kebathilan. Disini terdapat peringatan bagi kaum muslimin agar tidak bercerai berai dan berpecah belah menjadi firqah-firqah, dimana masing-masing firqah bersikap fanatik terhadap apa yang ada pada mereka, baik berupa kebenaran maupun kebatilan. Sehingga (dengan perpecahan ini -pent) jadilah kaum muslimin bertasyabbuh (serupa) dengan orang-orang musyrik dalam hal perpecahan. Padahal dien (agama) ini satu, rasulnya satu, sesembahannya satu, kebanyakan persoalan dien (agama) pun telah ijma diantara para ulama dan para imam, dan ukhuwah Imaniyah juga telah diikat oleh Alllah dengan sesempurna-sempurnanya ikatan, kenapa semua itu di sia-siakan ? Malahan dibangun perpecahan diantara kaum muslimin, dibangun masalah-masalah yang samar atau (dia bangun persoalan-persoalan) furu' khilafiyah, yang (atas dasar itu kemudian) sebagian kaum Muslimin menganggap sesat sebagian lainnya, dan masing-masing menganggap dirinyalah yang istimewa dibanding yang lain. tidak lain ini merupakan godaan setan yang terbesar, dan merupakan tujuan setan paling utama untuk memperdaya kaum muslimin?". [Tafsir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Manaan][Disalin dari Majalah Al-Ashalah tgl 15 Dzul Hijjah 1416H, edisi 17/Th. III hal 78-79, karya Salim bin Shalih Al-Marfadi, dan dimuat di Majalah As-Sunnah edisi 06/Tahun V/1422H/2001M hal.22-24 diterjemahkan oleh Ahmad Nusadi, artikel ini merupakan bagian pertama dari tiga bagian.]

FIKIH IKHTILAF [MEMAHAMI PERSELISIHAN PENDAPAT MENURUT AL-QUR'AN, SUNNAH DAN MANHAJ SALAF SHALIH]

OlehSalim bin Shalih Al-Marfadi

[2]. Tidak Semua Ikhtilaf adalah IftiraqDan itu ada karena Ikhtilaf merupakan lafazh yang masih umum, mencakup beberapa macam (makna), satu diantaranya adalah iftiraq. Iftiraq menurut bahasa berasal dari kata mufaraqah yang artinya perpecahan dan perpisahan. Sedangkan menurut istilah para ulama' iftiraq adalah keluar dari Sunnah dan Jama'ah pada salah satu ushul (pokok) dari perkara-perkara ushul yang mendasar, baik dalam aqidah ataupun amaliyah.Sangat disayangkan, ada sebagian thalabatul ilmi (penuntut ilmu syar'i) yang menghukum pada beberapa masalah ikhtilaf yang diperbolehkan sebagai iftiraq. Ini adalah kesalahan yang fatal. Penyebabnya adalah ketidaktahuan mereka tentang prinsip-prinsip iftiraq, kapan dan bagaimana bisa terjadi iftiraq ? Demikian juga (penyebabnya adalah -pent) ketidaktahuan mereka tentang masalah yang diperbolehkan ikhtilaf dan masalah yang tidak diperbolehkan ikhtilaf. Keterangan berikut ini akan membuat perbedaan antara ikhtilaf yang diperbolehkan dengan iftiraq menjadi jelas.[a]. Iftiraq tidak akan terjadi kecuali pada ushul kubra kulliyah (pokok-pokok yang besar dan mendasar) yang tidak ada peluang untuk diperselisihkan. Pokok-pokok yang telah jelas berdasarkan nash qathi atau ijma' atau telah jelas sebagai manhaj ilmiah Ahlus sunnah wal Jama'ah yang tidak lagi diperselisihkan (oleh Ahlus Sunnah) mengenainya. Berdasarkan hal itu, maka seorang muslim tidak boleh dicela sebagai yang termasuk firqah binasa (sesat) kecuali jika perbuatan bid'ah-nya pada masalah-masalah berikut :Pada masalah yang bersifat mendasar dalam agama, atau pada salah satu kaidah syari'ah, atau pada pokok syari'ah, baik secara total atau dalam banyak bagian-bagiannya, dimana ia terbiasa bersikap menentang terhadap banyak persoalan syari'ah.Syaikhul Islam pernah ditanya tentang batasan bid'ah yang mengakibatkan orangnya dianggap ahlul ahwa' (pengekor hawa nafsu), beliau menjawab : "Bid'ah yang mengakibatkan orangnya dianggap ahlul ahwa' (pengekor hawa nafsu) adalah bid'ah penyimpangannya dari Al-Qur'an dan Sunnah masyhur dikalangan ahli sunnah, seperti bid'ah-nya Khawarij, Rafidhah, Qadariyah, Murji'ah ...." [Majmu Fatawa XXXV/414][b]. Ikhtilaf (perselisihan pendapat) yang diperbolehkan itu bersumber dari ijtihad dan niat yang baik, dan orang yang salah akan diberi pahala apabila ia mencari kebenaran. Sementara Iftiraq (perpecahan) tidak terjadi dari kesungguh-sungguhan dalam mencari kebenaran dan niat yang baik, dia timbul dari mengikuti hawa nafsu.[c]. Iftiraq berkaitan erat dengan ancaman Allah, dan semua iftiraq menyimpang serta binasa, adapun ikhtilaf yang diperbolehkan tidaklah seperti itu betapapun hebat ikhtilaf yang terjadi diantara kaum muslimin. [Perbedaan diantara keduanya telah dijelaskan oleh Syaikh Nashr Al-Aql dalam muhadharah (ceramah) yang sangat berharga "Mafhumul Iftiraq* kemudian muhadharah itu dicetak dalam bentuk buku][3]. Kebenaran Itu Hanya Satu, Tidak Terbilang.Walaupun dalam perkara-perkara praktis. Ini adalah perkara yang jelas. Sebagian orang [1] ada yang berpendapat bahwa semua mujtahid (orang yang pantas untuk berijtihad -pent) itu benar. Ini adalah bualan belaka yang tidak perlu dijelaskan. Sekalipun demikian, kami akan bawakan dalil atas kebathilannya yang sebenarnya banyak, (namun kami sebutkan satu) diantaranya."Artinya : Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an ? Kalau kiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya" [An-Nisa' : 82]Kandungan ayat itu sangat jelas. Dengan demikian, setiap hal yang padanya terjadi ikhtilaf tadhadh (perselisihan pendapat kontrakdiktif), maka kebenaran yang ada padanya hanya satu, karena apapun yang berasal dari Allah, tidak akan ditemukan ikhtilaf padanya. Akal yang sehat pasti sesuai (sepakat) dengan dalil naql yang sharih dalam menolak ikhtilaf padanya. (Misalnya) dikatakan kepada Zaid (hanya contoh) : "Jika anda melakukan pekerjaan ini maka anda mendapat pahala dan berada di syurga, tetapi pada saat yang sama anda mendapat dosa dan berada di neraka. (Ini jelas tidak mungkin). Dan tidak mungkin pula terjadi, dengan satu pekerjaan seseorang berbuat maksiat, sementara pada saat yang sama, dalam pekerjaan yang sama dia juga berbuat ta'at kepada Allah" [2]Inilah kaidah tertpenting yang terhitung sebagai jalan masuk untuk memahami ikhtilaf.[Disalin dari Majalah Al-Ashalah tgl 15 Dzul Hijjah 1416H, edisi 17/Th. III hal 78-79, karya Salim bin Shalih Al-Marfadi, dan dimuat di Majalah As-Sunnah edisi 06/Tahun V/1422H/2001M hal.22-24 diterjemahkan oleh Ahmad Nusadi, artikel ini merupakan bagian pertama dari tiga bagian.]_________Fote Noote.[1] Diantaranya Quthb Ash-Shufiyah Asy-Sya'rani dalam kitabnya "Mizan".[2] Lihat pembahasan yang bagus tentang kaidah ini dalam Kitab Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam, karya Ibnu Hazm V/68, dan juga Kitab Jami' Bayan Al-Ilmi wa Fadhlihi, karya Ibnu Abdil Barr : Bab Dzikri Ad-Dalil fi Aqwal As-Salaf 'ala Anna Al-Ikhtilaf Khatha' wa Shawab.
sumber : www.almanhaj.or.id

Etika Berbeda Pendapat

OlehSyaikh Abdul Aziz bin BazPertanyaan.Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Syaikh yang terhormat, banyak perbedaaan pendapat yang terjadi di antara para aktivis dakwah yang menyebabkan kegagalan dan sirnanya kekuatan. Hal ini banyak terjadi akibat tidak mengetahui etika berbeda pendapat. Apa saran yang Syaikh sampaikan berkenan dengan masalah ini ?Jawaban.Yang saya sarankan kepada semua saudara-saudara saya para ahlul ilmi dan praktisi dakwah adalah menempuh metode yang baik, lembut dalam berdakwah dan bersikap halus dalam masalah-masalah yang terjadi perbedaan pendapat saat saling mengungkapkan pandangan dan pendapat. Jangan sampai terbawa oleh emosi dan kekasaran dengan melontarkan kalimat-kalimat yang tidak pantas dilontarkan, yang mana hal ini bisa menyebabkan perpecahan, perselisihan, saling membenci dan saling menjauhi. Seharusnya seorang da’i dan pendidik menempuh metode-metode yang bermanfaat, halus dalam bertutur kata, sehingga ucapannya bisa diterima dan hati pun tidak saling menjauhi, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada NabiNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.“Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” [Ali-Imran : 159]Allah berfirman kepada Musa dan Harun ketika mengutus mereka kepada Fir’aun.“Artinya : Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat atau takut” [Thaha : 44]Dalam ayat lain disebutkan.“Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik” [An-Nahl : 125]Dalam ayat lain disebutkan.“Artinya : Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zhalim di antara mereka” [Al-Ankabut : 46]Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.“Artinya : Sesungguhnya, tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu kecuali akan mengindahkannya, dan tidaklah (kelembutan itu) luput dari sesuatu kecuali akan memburukkannya” [Hadits Riwayat Muslim dalam Al-Birr wash Shilah : 2594]Beliaupun bersabda.“Artinya : Barangsiapa yang tidak terdapat kelembutan padanya, maka tidak ada kebaikan padanya” [Hadits Riwayat Muslim dalam Al-Birr wash Shilah : 2592]Maka seorang da’i dan pendidik hendaknya menempuh metode-metode yang bermanfaat dan menghindari kekerasan dan kekasaran, karena hal itu bisa menyebabkan ditolaknya kebenaran serta bisa menimbulkan perselisihan dan perpecahan di antara sesama kaum muslimin. Perlu selalu diingat, bahwa apa yang anda maksudkan adalah menjelaskan kebenaran dan ambisi untuk diterima serta bermanfaatnya dakwah, bukan bermaksud untuk menunjukkan ilmu anda atau menunjukkan bahwa anda berdakwah atau bahwa anda loyal terhadap agama Alah, karena sesungguhnya Allah mengetahui segala yang dirahasiakan dan yang disembunyikan. Jadi, yang dimaksud adalah menyampaikan dakwah dan agar manusia bisa mengambil manfaat dari perkataan anda. Dari itu, hendaklah anda memiliki faktor-faktor untuk diterimanya dakwah dan menjauhi faktor-faktor yang bisa menyebabkan ditolaknya dan tidak diterimanya dakwah.[Majmu’ Fatawa Wa Maqalat Mutanawwiah, Juz 5, hal.155-156, Syaikh Ibnu Baz][Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 198-200 Darul Haq]
sumber : www.almanhaj.or.id

Adab-Adab Ikhtilaf

OlehSalim bin Shalih al-Marfadi
Islam telah meletakkan sendi-sendi adab yang tinggi bagi seorang muslim yang berjalan diatas manhaj Sunnah, dalam pergaulannya bersama saudara-saudaranya ketika berselisih faham dengan mereka dalam masalah-masalah ijtihadiyah. Cukuplah kiranya, sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, pembawa rahmat dan petunjuk."Artinya : Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq-akhlaq yang mulia". [Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam 'Adabul Mufrad' dan Imam Ahmad. Lihat 'Silsilah Ash-shahihah 15']
Di antara adab-adab itu ialah :
[1]. Lapang Dada Menerima Kritik Yang Sampai Kepada Anda Untuk Membetulkan Kesalahan, Dan Hendaklah Anda Ketahui Bahwa Ini Adalah Nasehat Yang Dihadiahkan Oleh Saudara Seiman Anda.Ketahuilah ! Bahwa penolakan anda terhadap kebenaran dan kemarahan anda karena pembelaan terhadap diri adalah kesombongan -A'aadzanallah. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda."Artinya : Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain". [Hadits Riwayat Muslim]
Banyak sekali contoh sekitar adab yang mulia ini yang telah dijelaskan oleh para salafus shalih, dianaaranya adalah :
Kisah yang diceritakan oleh al-Hafizh Ibnu Abdil Bar, beliau berkata : "Banyak orang telah membawa berita kepada saya, berasal dari Abu Muhammad Qasim bin Ashbagh, dia berkata : "Ketika saya melakukan perjalanan ke daerah timur, saya singgah di Qairawan. Disana saya mempelajari hadits Musaddad dari Bakr bin Hammad. Kemudian saya melakukan perjalanan ke Baghdad dan saya temui banyak orang (Ulama) disana. Ketika saya pergi (dari Baghdad), saya kembali lagi kepada Bakr bin Hammad (di Qairawan-red) untuk menyempurnakan belajar hadits Musaddad.Suatu hari saya membacakan hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dihadapan beliau (untuk mempelajarinya) :"Artinya : Sungguh telah datang satu kaum dari Muldar yang (Mujtaabin Nimar)"Beliau (Bakr bin Hammad) berkata kepadaku "Sesungguhnya yang benar adalah Mujtabits Tsimar. Aku katakan padanya Mujtaabin Nimar, demikianlah aku membacanya setiap kali aku membacakannya di hadapan setiap orang yang aku temui di Andalusia dan Irak"Beliau berkata kepadaku : "Karena enngkau pergi ke Irak, maka kini engkau (berani) menentang aku dan menyombongkan diri dihadapanku ?" Kemudian dia berkata kepadaku (lagi) : "Ayolah kita bersama-sama bertanya kepada syaikh itu (menunjuk seorang syaikh yang berada di Masjid), dia punya ilmu dalam hal seperti ini"Kami pun pergi ke syaikh tersebut dan kami menanyainya tentang hal ini.Beliau berkata : "Sesungguhnya yang benar adalah [Mujtaabin Nimar]" seperti yang aku baca. Artinya adalah : Orang-orang yang memakai pakaian, bagian depannya terbelah, kerah bajunya ada di depan. Nimar adalah bentuk jama' dari Namrah. Bakr bin Hammad berkata sambil memegangi hidungnya : "Aku tunduk kepada al-haq, aku tunduk kepada al-haq !" lalu ia pergi. [Mukhtasyar Jaami' Bayanil Ilmi wa Fadlihi, hal.123 yang diringkas oleh Syaikh Ahmad bin Umar al-Mahmashaani]Saudaraku, cobalah anda perhatikan -semoga Allah senantiasa menjaga anda- betapa menakjubkan sikap Adil ini ! Alangkah perlunya kita pada sikap adil seperti sekarang ! Akan tetapi mana mungkin hal itu terjadi kecuali bagi orang yang ikhlas niatnya karena Allah Subhanahu wa Ta'ala. Inilah dia Imam Malik rahimahullah (pada masa hidupnya-red) pernah berkata : "Tidak ada sesuatupun yang lebih sedikit dibandingkan dengan sifat adil pada zaman sekarang ini" [Mukhtasyar Jaami' Bayanil Ilmi wa Fadlihi, hal . 120 yang diringkas oleh Syaikh Ahmad bin Umar al-Mahmashaani]Maka apa lagi dengan zaman sekarang ini yang sudah demikian berkecamuknya hawa nafsu!! -Kita berlindung kepada Allah dari fitnah yang menyesatkan-.
[2]. Hendaklah Memilih Ucapan Yang Terbaik Dan Terbagus Dalam Berdiskusi Dengan Sesama Saudara Muslim.Allah berfirman."Artinya : Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia" [Al-Baqarah : 83]
Dari Abu Darda' Radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda."Artinya : Tidak ada sesuatupun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat dibanding akhlaq yang baik, dan sesungguhnya Allah murka kepada orang yang keji dan jelek (akhlaqnya)". [Hadits Riwayat Tirmidzi)
[3]. Hendaklah Diskusi Yang Dilakukan Terhadap Saudara Sesama Muslim, Dengan Cara-Cara Yang Bagus Untuk Menuju Suatu Yang Lebih Lurus.Yang menjadi motif dalam berdiskusi hendaklah kebenaran, bukan untuk membela hawa nafsu yang sering memerintahkan pada kejelekan. Akhlak anda ketika berbicara terletak pada keikhlasan anda. Jika diskusi (tukar fikiran) sampai ketingkat adu mulut, maka katakanlah : "salaam/selamat berpisah !" dan bacakanlah kepadanya sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam."Artinya : Saya adalah pemimpin di sebuah rumah di pelataran sorga bagi orang yang meninggalkan adu mulut meskipun ia benar" [Hadits Riwayat Abu Daud dari Abu Umamah al-Bahily]Al-Hafizh Ibnu Abdil Bar menyebutkan dari Zakaria bin Yahya yang berkata : "Saya telah mendengar Al-Ashma'i berkata : "Abdullah bin Hasan berkata : Adu mulut akan merusak persahabatan yang lama, dan mencerai beraikan ikatan (persaudaraan) yang kuat, minimal (adu mulut) akan menjadikan mughalabah (keinginan untuk saling mengalahkan) dan mughalabah adalah sebab terkuat putusnya ikatan persaudaraan. [Mukhtasyar Jaami' Bayan al-Ilmi wa Fadlihi hal. 278]
Dari Ja'far bin Auf, dia berkata : saya mendengar Mis'ar berkata kepada Kidam, anaknya :Kuhadiahkan buatmu wahai Kidam nasihatkuDengarlah perkataan bapak yang menyayangimuAdapun senda gurau dan adu mulut, tinggalkanlah keduanya Dia adalah dua akhlak yang tak kusuka dimiliki temanKu pernah tertimpa keduanya lalu akupun tak menyukainyaUntuk tetangga dekat ataupun buat temanPara salaf shalih telah membuat permisalan yang sangat cemerlang tentang etika ikhtilaf (perselisihan pendapat), diantaranya adalah :Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Hushain bin Abdurrahman, dia berkata : "Saya berada di tempat Said bin Jubair, lalu ia berkata : "Siapakah diantara kalian yang melihat bintang jatuh tadi malam ?Saya jawab : "Saya, tetapi ketahuilah bahwa saya tidak dalam keadaan shalat, saya kena sengat binatang berbisa!".Sa'id bertanya : "Apa yang kau perbuat ?"Saya menjawab : "Saya melakukan ruqyah (baca-bacaan sebagai obat)"Said bertanya : "(Dalil) apakah yang membawamu untuk melakukan itu ?"Saya jawab : "Sebuah hadits yang diceritakan kepada kami oleh As-Sya'bi".Sa'id berkata :"Apa yang diceritakan Asy-Sya'bi kepadamu ?"Saya jawab : "Dia bercerita kepada kami dari Buraidah bin Al-Hushain bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda."Artinya : Tidak ada ruqyah kecuali (pada penyakit yang timbul) dari mata (orang yang dengki) dan bisa (racun) hewan"Dia berkata : "Sungguh bagus orang yang berpedoman pada apa (riwayat) yang ia dengar, akan tetapi Ibnu Abbas menceritakan kepada kami bahwa .....(sampai akhir hadits)"Perhatikanlah adab mulia yang dimiliki pewaris ilmunya Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu ini, ia tidak memaki Hushain bin Abdurrahman (orang yang berselisih dengannya), bahkan menganggapnya baik karena Hushain mengamalkan dalil yang ia ketahui. Kemudian baru setelah itu. Sa'id bin Jubair menjelaskan hal yang lebih utama (untuk dilakukan) dengan cara yang lembut dan dikuatkan dengan dalil.Akhirnya melalui hadits ini kita dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut.
[1] Ikhtilaf, meskipun ia sudah menjadi perkara yang ditakdirkan oleh Allah akan tetapi wajib bagi kita untuk menjauhinya dan tidak punya keinginan untuk berikhtilaf pada suatu yag boleh selama kita masih ada jalan untuk menghindarinya.
[2] Perkara-perkara yang diperbolehkan ijtihad padanya, memiliki beberapa syarat dan ketentuan-ketentuan yang diatur oleh ilmu dan keikhlasan bukan diatur oleh perkiraan dan kemauan hawa nafsu.
[3] Ahlu Sunnah memiliki manhaj dalam memahami ikhtilaf yang diambil dari Al-Qur'an dan Sunnah. Diantara adab-adabnya adalah mengikuti akhlak para salaf shalih dalam pergaulan dengan sesama mereka ketika terjadi ikhtilaf.
[4] Tidak boleh bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menuduh saudaranya memisahkan diri dari manhaj Ahlus Sunnah kecuali berdasarkan ilmu dan keadilan, bukan berdasarkan kebodohan dan kezhaliman.
[5] Tidak mencampur adukkan antara masalah-masalah ijtihadiyah dengan masalah iftiraq (perpecahan) demikian juga tidak boleh mencampur-adukkan antara orang yang membuat bid'ah juz'iyah dengan orang yang meninggalkan sunnah dengan bid'ah kulliyah.[Demikianlah, semoga tulisan terjemahan dari majalah al-Ashalah ini dapat memberikan tambahan pemahaman kepada pembaca sekalian tentang Fiqh Ikhtilaf atau perbedaan pendapat][Disadur dari Majalah Al-Ashalah tgl.15 Dzul Hijjah 1416H, edisi 17/Th III hal. 78-89, karya Salim bin Shalih Al-Marfadi, dan dimuat di Majalah As-Sunnah edisi 06/Tahun V/1422H/2001M, hal. 30-32 Adab-AdaB Ikhtilaf merupakan bagian ketiga dari tiga bagian, diterjemahkan oleh Ahmad Nusadi.]
Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=885&bagian=0

Realita Dan Ilmu Fiqih


الحمد لله والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، وعلى آله وأصحابه ومن سار على نهجه واستن بسنته إلى يوم الدين، أما بعد:

Adalah sebuah kebahagian dan kenikmatan yang harus disyukuri, disaat seseorang mendapatkan taufiq dari Allah untuk menempuh jalan menuntut ilmu. Banyak dalil-dalil, baik ayat maupun hadits yang menunjukkan akan keutamaan amalan ini, diantaranya sabda Rasulullah e:
من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة. رواه مسلم
Artinya: "Barang siapa yang menempuh jalan guna menimba ilmu, niscaya Allah akan mudahkan baginya, berkat amalan ini jalan menuju ke surga". (HRS Muslim)>
Pada kesempatan ini, saya hendak mengingatkan diri saya dan rekan-rekan saya akan sebuah hal yang mungkin dilalaikan oleh sebagian orang. Hal ini dikarenakan adanya sikap trauma dari hal ini, akibat dari penyelewengan yang dilakukan oleh sebagian ahlil bid'ah dalam memahaminya. Oleh karena itu, saya anggap perlu hal ini didudukkan dan diluruskan, semoga tidak terjadi sikap-sikap yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip umum dalam ilmu syari'at. Hal ini adalah yang dinamakan dengan realita atau waqi'
Realita atau yang disebut dalam bahasa arab dengan Waqi’ merupakan hal penting dalam kehidupan seorang ulama’ dan thullabul ilmi, agar benar-benar ilmu yang kita peroleh berguna bagi kita dan juga masyarakat kita, hal ini disebabkan beberapa faktor berikut:
1. Setiap nama dalam syari’at, adalah merupakan hakikat syar’iyyah (istilah syar’i), sehingga tidak cukup untuk memahaminya hanya dengan ditilik dari sisi bahasa, akan tetapi harus difahami sesuai dengan definisi kata tersebut dalam syari'at, dan ulama' islam dengan berbagai disiplin ilmu telah menjelaskan makna setiap istilah tersebut. Realita ini dalam ilmu ushul fiqih disebut dengan pembahasan الحقيقة الشرعية واللغوية .
2. Banyak hukum dalam syari’at yang didasari oleh adat istiadat.
3. Banyaknya perubahan, perkembangan dan hal-hal baru dalam berbagai aspek kehidupan manusia, yang lebih terkenal dengan masalah-masalah kontemporer. Sehingga kita tidak akan dapat mengetahui hukum syari’at dalam masalah-masalah tersebut, kecuali setelah kita memahami realita dan permasalahan yang serupa dengannya dalam fiqih ulama' terdahulu (tashwir fiqhy & tanzilul fiqhy).
4. Kesempurnaan sulit dicapai.
Inilah yang saya maksud dengan realita atau waqi', bukan seperti yang didengung-dengungkan oleh ahlul bid'ah, karena yang mereka maksudkan dengan realita atau waqi' tak lain hanya sekedar mengetahui permasalahan politik, dan kesalahan-kesalahan pemerintah. Mereka melakukannya dengan cara mengikuti dan mempercayai berita-berita yang ada di koran-koran, stasiun televisi, radio internet, dll. Maka hendaknya orang yang membaca tulisan saya ini senantiasa memperhatikan maksud saya ini.
Pada kesempatan ini, penulis hendak mengajak rekan-rekan semua untuk sedikit merenungkan keempat faktor ini, kemudian mengetahui metode ilmiyyah dalam menghadapi setiap faktor:
Hakikat syar’iyyah dan hakikat Lughowiyyah.
Yang dimaksud dengan hakikat syar’iyyah adalah setiap kata yang digunakan dalam syari’at, dan memiliki kandungan makna tertentu.
Adapun yang dimaksud dengan hakikat lughowiyyah, adalah makna setiap kata dalam bahasa.([1])
Sebagai contoh: Kata (الصلاة), dalam kamus-kamus bahasa, kata ini bermaknakan: doa’ akan tetapi dalam syari’at bermaknakan lain, yaitu sebuah ibadah yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.([2])
Jumhur ulama’ mengatakan bahwa setiap kata dalam syari’at, harus diartikan sesuai dengan hakikat syar’iyyah, kecuali bila ada qorinah (alasan) yang menjadikannya harus diartikan sesuai dengan makna kata tersebut dalam bahasa arab.([3])
Hal ini jauh-jauh hari telah disinyalir oleh Rasulullah e dalam sebuah hadits:
عن أبي مالك الأشعري t أنه سمع رسول الله eيقول: ليشربن ناس من أمتي الخمر يسمونها بغير اسمها. رواه أبو داود، وله شواهد كثيرة.
Dari Abu Malik Al ‘Asy’ari, t, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah e bersabda: “Sungguh akan ada sekelompok orang dari ummatku yang minum khomer, dan mereka menamakannya dengan selain namanya”. (HR Abu Dawud, dan hadits ini memiliki banyak syawahid).
Kalo kita lihat dalam kamus-kamus bahasa arab, kita akan dapatkan bahwa yang dinamakan khomer secara bahasa, adalah perasan (jus) anggur yang memabokkan. Sehingga kalo kita memahami ayat-ayat dan hadits-hadits yang mengharamkan khomer hanya berdasarkan pemahaman bahasa, maka kita akan katakan bahwa jus selain anggur bukan khomer, walaupun memabokkan.
Oleh karena itu, banyak orang (tolabatul ilmi) yang mengharamkan minuman memabokkan yang terbuat dari selain anggur, dengan dalil qiyas. Padahal kalo kita memahami kata khomer secara istilah syar’i, kita tidak perlu terhadap dalil qiyas dalam mengharamkan minuman tersebut. Sebagai buktinya, mari kita simak dan renungkan hadits berikut:
عن بن عمر رضي اله عنهما قال: قال رسول الله e : (كل مسكر خمر وكل مسكر حرام). رواه مسلم
Dari Ibnu Umar radliallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah e bersabda: (Setiap yang memabokkan adalah khomer, dan setiap yang memabokkan adalah haram”. (HR Muslim).
Dalam hadits Abi Malik Al ‘Asy’ary diatas, kita mendapatkan beberapa pelajaran penting:
1. Kata khomer dalam syari’at memiliki makna khusus, sehingga setiap minuman yang terdapat padanya makna tersebut, dinamakan khomer, walaupun masyarakat menamakannya dengan nama lain.
2. Bahwa yang menjadi pedoman (manathul hukmi) dalam menghukumi suatu masalah adalah hakikatnya (realita), bukan sekedar penamaan.
3. Hakikat khomer dalam syari’at tidak berubah hanya sekedar perubahan nama, atau dengan kata lain, nama tidak dapat merubah hakikat.
4. Ketiga hal diatas berlaku pula pada kata-kata (istilah-istilah) lain dalam syari’at, misalnya: riba, mudhorobah, mubtadi’, kafir, fasik, mukmin, muhsin, zakat, dll.
Sebagai contoh lain, mari kita simak ayat berikut:
] وكلوا واشربوا حتى يتبين لكم الخيط الأبيض من الخيط الأسود من الفجر [
”Dan makan dan minumlah kamu hingga menjadi jelas bagimu (perbedaan) benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”. (QS Al Baqarah 187).
Al Bukhory meriwayatkan dari sahabat Sahel bin Sa’ad t:
قـال أنـزلت : ] وكلوا واشربوا حتى يتبين لكم الخيط الأبيض من الخيط الأسود [ ولـم ينـزل ]من الفجر[ فكان رجال إذا أرادوا الصوم، ربط أحدهم في رجله الخيط الأبيض والخيط الأسود، ولم يزل يأكل حتى يتبين له رؤيتهما، فأنـزل الله بعد ] WÝYÚ $X£`•WÉ<Ö@… [، فعلموا أنه إنما يعني الليل والنهار. “Tatkala Allah menurunkan firman-Nya: “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam” dan belum menurunkan firman-Nya “Yaitu fajar”, sehingga sebagian orang apabila hendak berpuasa, ia mengikatkan di kakinya benang putih dan benang hitam. Dan ia terus makan, hingga telah terlihat dengan jelas baginya kedua benang tersebut. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya “yaitu fajer”, sehingga mereka mengetahui bahwa yang dimaksud ialah (hitamnya) malam dan (putihnya) siang”. Dan dalam riwayat lain, dari sahabat Adi t, ia berkata: قال أخذ عدي عقالا أبيض وعقالا أسود، حتى كان بعض الليل، نظر فلم يستبينا، فلما أصبح قال: يا رسول الله، جعلت تحت وسادي، قال: إن وسادك إذا لعريض إن كان الخيط الأبيض والأسود تحت وسادتك. رواه الشيخان واللفظ للبخاري “Adi mengambil tali putih dan tali hitam, dan pada tengah malam, ia melihat kepada (keduanya), dan keduanya tidak jelas olehnya. Kemudian tatkala esok hari, ia (bertanya kepada Rasulullah, seraya) berkata: Wahai Rasulullah, aku letakkan (kedua benang tersebut) dibawah bantalku, maka Rasulullah bersabda: Sungguh bantalmu sangat lebar, bila benang putih (waktu siang) dan benang hitam (waktu malam) berada dibawah bantalmu. (HRS Bukhory dan Muslim) Sebagai contoh lain yang sering kita dengar dan mungkin kita alami sendiri, yaitu kata titipan/tabungan (Al Wadi’ah) dan hutang (Ad Dain), silahkan anda pergi ke bank-bank yang ada di negri kita atau di negri lain, anda pasti akan dapatkan fenomena manipulasi istilah, sehingga hutang dinamakan dengan tabungan/ titipan. Oleh karena penamaan ini tidak merubah hakikat, kita dapatkan para ulama’ mengharamkan bunga tabungan (deposito), dan menghukuminya sebagai riba, karena pada hakikatnya, yang dinamakan dengan tabungan (deposito) adalah hutang, bukan tabungan atau titipan atau wadi’ah. Sebagai contoh lain, kata hukum (Al Hukmu), betapa banyak orang yang membatasi makna kata ini pada peradilan dan undang-undang pemerintah, sehingga berbagai ayat dan hadits serta keterangan ulama’ yang menjelaskan haramnya berhukum dengan selain hukum Allah hanya ditujukan kepada mereka (pemerintah). Adapun berbagai peradilan dan keputusan yang dilakukan oleh perorangan atau kelompok atau organisasi, tidak pernah dipermasalahkan. Inilah salah satu perbedaan antara metode berfikir orang khowarij dengan metode berfikir ahlis sunnah wal jama’ah. Wahai saudaraku, marilah kita lihat dan simak kembali dengan seksama ayat-ayat, hadits-hadits, dan keterangan para ulama’ seputar masalah ini, agar kita sampai pada kesimpulan yang benar. Dan sekedar sebagai bahan acuan saja, mari kita bersama-sama simak perdebatan antara orang-orang khowarij dengan anak paman Rasulullah e, Abdullah bin Abbas t, beliau berkata kepada mereka أخبروني ماذا نقمتم على ابن عم رسول الله e وصهره والمهاجرين والأنصار؟ قالوا ثلاثا، قلت: ما هن قالوا: أما إحداهن: فإنه حكم الرجال في أمر الله، وقال الله تعالى: ] إن الحكم إلا لله [ وما للرجال وما للحكم، …. فقلت: أما قولكم: حكم الرجال في أمر الله فأنا أقرأ عليكم ما قد رد حكمه إلى الرجال في ثمن ربع درهم في أرنب ونحوها من الصيد، فقال: ] يا أيها الذين آمنوا لا تقتلوا الصيد وأنتم حرم –إلى قوله- يحكم به ذوا عدل منكم[ فنشدتكم الله أحكم الرجال في أرنب ونحوها من الصيد أفضل أم حكمهم في دمائهم وصلاح ذات بينهم؟ وأن تعلموا أن الله لو شاء لحكم ولم يصير ذلك إلى الرجال. وفي المرأة وزوجها، قال الله عز وجل: ] إن خفتم شقاق بينهما فابعثوا حكما من أهله وحكما من أهلها أن يريدا إصلاحا يوفق الله بينهما[ فجعل الله حكم الرجال سنة مأمونة. رواه أحمد والطبراني والبيهقي وصححه الحاكم. “Kabarkan (katakan) kepadaku, apa yang kamu benci (musuhi) dari anak paman Rasulullah (Ali bin Abi Tholib t), sekaligus menantunya, dan juga dari kaum Muhajirin dan Anshar? Mereka berkata: Tiga perkara, Aku berkata: Apakah ketiga perkara itu? Mereka berkata: Adapun yang pertama: Sesungguhnya dia telah menjadikan manusia sebagai hakim dalam urusan (agama) Allah, apa hubungan manusia dengan hukum (Allah)?! ……. Maka aku berkata: Adapun anggapan kalian, bahwa dia (Ali) telah menjadikan manusia sebagai hakim dalam urusan (agama) Allah, maka akan aku sebutkan untuk kalian beberapa masalah yang keputusannya diserahkan kepada manusia, yaitu dalam masalah yang seharga ¼ dirham, sebagai harga seekor kelinci dan binatang buruan yang serupa dengannya, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. ..s/d .. menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu” (QS Al Maidah 95), Aku sumpah kalian, apakah hukum (keputusan manusia pada seekor kelinci dan yang serupa, lebih utama, ataukah keputusan mereka pada hal yang berhubungan dengan (pertumpahan) darah dan perdamaian antara mereka? Dan hendaknya kalian juga tahu, bahwa seandainya Allah menghendaki, niscaya Ia akan menurunkan keputusan-Nya, dan tidak menyerahkannya kepada manusia. Dan dalam urusan seorang suami dan istrinya, Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu” (QS An Nisa’ 35), Allah (pada ayat ini) menjadikan keputusan manusia sebagai jalan yang harus ditempuh”. (HRS Ahmad, At Thobrony, Al Baihaqy dan dishohihkan oleh Al Hakim) Dalam perdebatan ini kita dapat melihat dengan jelas, bahwa berhukum dengan hukum Allah, bukanlah kewajiban para pemerintah semata, akan tetapi kewajiban setiap orang. Oleh karena itu kita dapatkan ayat-ayat dan hadits-hadits yang memerintahkan kita berhukum dengan hukum Allah, datang dengan teks yang bersifat umum. Fenomena ini mengharuskan kita mendalami dan mengkaji setiap kata dan istilah yang ada dalam syari’at, dan memahaminya sesuai dengan yang dimaksudkan dalam syariat, bukan hanya sekedar mengetahui arti kata tersebut menurut bahasa arab, agar kita dapat sampai kepada sebuah keputusan hukum yang benar dalam masalah tersebut. Sebagai penerapan lain bagi hal (realita) ini, adalah yang disebutkan dalam sebuah kaidah fiqih (Pertanyaan bagaikan diulang dalam jawaban).[4]
Maksud kaidah ini: apabila kita bertanya kepada seseorang tentang sesuatu, maka tatkala orang itu menjawab pertanyaan kita, maka kandungan/inti pertanyaan kita terkandung dalam jawabannya, misal: kita bertanya kepada seorang ulama': Apa hukumnya orang mabok hingga hilang kesadarannya kemudian menceraikan istrinya? Maka ulama' tersebut menjawab: Istrinya tidak tercerai. Ulama' ini seakan-akan menjawab dengan berkata: Orang mabok hingga kesadarannya hilang tidak tercerai istrinya.
Dalam kehidupan dakwah salafiyah di negri kita dan juga di negri lain, sedang dilanda musibah yang diakibatkan oleh banyak dari kita yang tidak memahami kaidah ini. Sehingga sering terjadi salah pemahaman dan salah penerapan terhadap jawaban ulama' terhadap sebagian pertanyaan.
Sebagai contoh saja : ada seseorang yang bertanya kepada salah seorang ulama' tentang seorang da'i di indonesia yang berkata atau bersikap tertentu, maka ulama' itupun menjawab sesuai dengan pertanyaan yang diajukan. Dan akhirnya jawaban beliau ini dijadikan untuk mengkalim bahwa ulama' itu telah memfonis da'i tersebut, atau telah menghukuminya sebagai mubtadi' atau fasik atau lainnya. Padahal ulama' tersebut hanya menghukumi sebatas pertanyaan yang beliau dengar, terlepas dari fakta dan realita yang sebenarnya terjadi pada da'i tersebut.
Hal ini bukanlah kesalahan bagi ulama' tersebut, karena beliau telah menjalankan tugas dengan benar, yaitu menjawab sesuai pertanyaan. Akan tetapi yang tercela adalah sang penanya yang bertanya tidak sesuai dengan realita.
عن أم سلمة رضي الله عنها أن رسول الله e قال: (إنما أنا بشر وإنكم تختصمون إلي ولعل بعضكم أن يكون ألحن بحجته من بعض فأقضي على نحو ما أسمع، فمن قضيت له بحق أخيه شيئا فلا يأخذه فإنما أقطع له قطعة من النار) رواه البخاري.
Artinya: Dari Ummu Salamah radliallahu 'anha, bahwa Rasulullah e bersabda: "Sesungguhnya aku adalah manusia, dan sesungguhnya kalian berhakim kepadaku, dan mungkin saja sebagian kalian lebih pandai dalam menyampaikan alasannya dibanding yang lain (lawannya), kemudian aku memutuskan sesuai dengan apa (alasan) yang aku dengar, maka barang siapa yang untuknya aku putuskan dengan sebagian hak saudaranya (orang lain), hendaknya jangan ia ambil, karena sesungguhnya aku telah memotongkan baginya se kah api neraka". (HRS Bukhory).
Hadits ini merupakan kaidah dan pelita bagi kita semua dalam menghadapi berbagai kasus pertanyaan dan fatwa yang ada di medan dakwah di negri kita Indonesia.

Banyak hukum dalam syari’at yang didasari oleh adat istiadat

Saya rasa hal ini bukanlah hal yang aneh lagi bagi seorang tholibul ilmi, bahkan hal ini adalah satu dari kelima kaidah besar dalam ilmu fiqih, yang disepakati oleh para ulama’, hanya saja mungkin dalam praktek dan penerapannya yang terjadi perbedaan.([5])
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Tidak boleh bagi seorang mufti, untuk berfatwa dalam masalah seputar iqrar (pengakuan), aiman (sumpah), wasiyat, dan lainnya, yang ada hubungannya dengan (penafsiran) lafdl (kata-kata), berdasarkan kebiasaanya sendiri dalam memahami kata-kata itu, tanpa mengetahui terlebih dahulu adat dan tradisi orang yang mengucapkan kata tersebut, sehingga ia dapat menafsirinya sesuai dengan adat dan tradisi mereka. Walaupun adat dan tradisi mereka itu bertentangan dengan hakikat dasar (makna asli) kata-kata tersebut. Tatkala ia (seorang mufti) tidak melakukan hal ini, niscaya ia akan sesat dan menyesatkan”.([6])
Dan dalam kesempatan lain, setelah ia menjelaskan kewajiban mufti agar ketika berfatwa senantiasa memperhatikan perubahan adat istiadat pada setiap masyarakat, ia berkata: “Barang siapa yang berfatwa kepada orang lain, hanya berpedoman dengan yang disebutkan dalam kitab-kitab, tanpa memperdulikan perbedaan adat dan tradisi masyarakat, masa, situasi, kondisi, dan berbagai faktor yang ada pada mereka, maka ia telah sesat dan menyesatkan. Dan kejahatan yang ia lakukan terhadap agama, lebih besar dibanding kejahatan seorang dokter gadungan, yang mengobati badan orang lain, dengan berbagai perbedaan negri, tradisi, masa dan tabiat mereka, hanya berpedoman dengan sebuah buku kedokteran saja”.([7])
Sebagai salah satu contoh penerapan kaidah ini, bila kita membaca kitab-kitab para ulama’ yang membahas tentang dlihar, niscaya kita akan dapatkan bahwa: barang siapa yang mengatakan kepada istrinya: ibu (mama, ummy), atau saudaraku perempuan (mbak/adik dll) atau sebutan yang semakna, dihukumi dlihar, sehingga ia tidak boleh berhubungan dengan istrinya, hingga membayar kafarah, yaitu memerdekakan budak, kalau tidak dapat, berpuasa dua bulan berturut-turut, dan kalau tidak dapat, bersedekah memberi makan kepada enam puluh orang miskin. Nah kalau kita terapkan begitu saja fatwa ini pada masyarakat indonesia, niscaya 70 % dari para suami harus membayar kafarah ini.
Sebagai contoh lain, kata nafkah, kalo kita lihat masyarakat di negri arab, setiap istri jatah makannya (kebiasaannya) sekali makan dengan lauk ½ ekor ayam, minum susu, sarapan roti dan keju, dll, nah kalo hal (adat) ini kita jadikan ukuran dalam berfatwa seputar kadar nafkah di masyarakat indonesia, tentu tidak sesuai.
Dan masih banyak hal lagi yang semakna dengan dua contoh ini, bagi yang ingin memperdalam dan mengkaji lebih luas masalah ini, hendaknya merujuk kitab-kitab qowaid fiqhiyyah, misal: Al Asybah wan Nazhoir oleh As Suyuthy, Al Asybah wan Nazhoir oleh Ibnu Nujaim dll.
Metode yang efektif untuk mensikapi berbagai masalah seperti ini, hendaknya sebelum menjawab pertanyaan, kita bertanya daerah asal penanya? apakah adat dan tradisi daerahnya berbeda dengan adat dan tradisi kita?([8])
Ada satu hal yang tidak kalah pentingnya dengan hal ini (memperhatikan perbedaan adat dan tradisi dalam berfatwa) adalah memperhatikan perbedaan mazhab yang berlaku di setiap masyarakat. Sebagai contoh, di negri Saudi Arabia, mazhab yang diterapkan oleh pemerintahnya adalah mazhab Hambali, dan mazhab ini pula yang diterapkan di pengadilan serta oleh para mufti negri ini, sedangkan mazhab yang dianut di negri kita adalah mazhab syafi’i, oleh karena itu dalam masalah-masalah yang tergolong dalam masalah ijtihadiyyah (masalah yang tidak ada dali shohih lagi shorih/nyata) hendaknya kita memperhatikan fenomena ini, agar tidak menimbulkan fitnah.
Sebagai contoh nyata: Rasulullah e, Abu Bakar, dan Umar radliallahu 'anhuma tatkala berhaji dan berada di Mina, mereka mengqoshor sholat ruba'iyah (Zhuhur, Ashar, Isya') menjadi dua rakaat-dua rakaat, akan tetapi pada zaman khilafah Utsman bin Affan t beliau sholat empat-empat, maka perbuatan beliau inipun diingkari oleh para sahabat yang ada kala itu. Diantara sahabat yang mengingkari adalah Abdullah bin Mas'ud t, ketika hal ini sampai kepada beliau, beliau mengucapkan istirja' (Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un), akan tetapi tatkala datang waktu sholat, beliau sholat berjamaah bersama sahabat Utsman bin Affan, dan mengikutinya sholat empat-empat.
Tatkala belaiu ditanya tentang sikap beliau yang mengikuti ijtihad kholifah Utsman ini, berliau berkata: ( الخلاف شر) "Perbedaan itu buruk".[9]
Contoh lain: Dalam mazhab hambali([10]), dan yang diterapkan di negri ini (Arab Saudi), ketika sholat jahriyyah, tidak disunnahkan untuk membaca basmalah dengan suara keras, akan tetapi dibaca dengan pelan-pelan, baik ia seorang imam atau bukan. Akan tetapi dalam mazhab Syafi’i,([11]) dan yang diterapkan di negri kita Indonesia, mengeraskan suara dengan bacaan basmalah adalah sunnah. Betapa banyak masalah yang timbul karena sikap sebagian kita yang kurang memperhatikan fenomena ini, sehingga ketika ia ditunjuk menjadi imam dikampungnya, ia tidak mengeraskan bacaan basmalah.
Sebagai contoh lain: dalam Mazhab Syafi’i, seorang khotib jum’ah diwajibkan membaca ayat, hamdalah, sholawat kepada Nabi, dan berwasiat dengan ketaqwaan, keempat hal ini termasuk rukun-rukun khutbah, tidak sah khutbah seseorang kalau tidak melakukan hal-hal itu.([12]) Dan karena sebagian tholibul ilmi mengikuti pendapat sebagian ulama’, ketika ia ditunjuk menjadi khotib, ia tidak membaca sholawat kepada Nabi e. Akibatnya sebagian jama’ah, selepas sholat, ia mengulang sholat dhuhur, karena ia menganggap bahwa khutbah sang imam tidak sah, sehingga sholat jum’atnya juga tidak sah. Kejadian ini sempat diangkat dalam sebuah majalah yang terbit di salah satu kota di Indonesia.
Dan masih banyak lagi contoh-contoh serupa.
Fenomena ini, mengharuskan kita untuk sedikit membuka mata, dan telinga kita, guna melihat dan mendengar kenyataan, dan kemudian mengkaji setiap masalah yang terjadi perbedaan mazhab (terutama antara yang dijalankan di negri kita dengan yang kita anggap rojih, sehingga kita amalkan). Dengan demikian kita akan dapat bersikap bijak lagi arif dalam menghadapi perbedaan itu, karena para ulama’ telah menggariskan sebuah kaidah penting lagi berguna dalam situasi seperti ini, yaitu:
يستحب الخروج من الخلاف بفعل ما اختلف في وجوبه وترك ما اختلف في تحريمه
“Disunnahkan menghindari khilaf (perbedaan pendapat), yaitu dengan cara melakukan hal yang dikhilafkan akan kewajibannya, dan meninggalkan hal yang dikhilafkankan akan keharamannya”.([13])
Mungkin ada yang berkata, apakah semua khilaf harus diperhatikan, dan dihindari?
Untuk menjawab pertanyaan ini, maka hendaknya diketahui bahwa kaidah ini, memiliki tiga syarat dalam penerapannya :
1. Hendaknya sikap menghindari khilaf tidak menyebabkan kita bertentangan dengan satu hal yang disunnahkan dengan dalil yang nyata (shohih lagi shorih), sebagai misal: Kita tetap mengangkat tangan ketika sholat, walaupun menurut mazhab Hanafy, hal ini membatalkan sholat. Dalam jual beli, kita memiliki khiyar majlis, walaupun Imam Malik tidak membenarkan adanya khiyar majlis, karena dalil adanya khiyar majlis jelas-jelas shohih lagi shorih, bahkan diriwayatkan oleh Imam Malik sendiri, dalam kitabnya “Al Muwatha’”.
2. Hendaknya sikap ini tidak menjatuhkan kita pada khilaf lain. sebagai misal: Bila kita hendak sholat witir tiga rakaat, maka yang afdlol adalah dengan cara sholat dua rakaat, kemudian salam, lalu nambah satu rakaat, walaupun Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa sholat witir tiga rakaat harus disambung tidak boleh dipisah (dengan dua salam). hal ini karena sebagian ulama’ mengatakan bahwa menyambung witir (3 rakaat langsung dengan satu salam) tidak sah.
3. Dalil atau alasan pendapat yang hendak kita hindari khilafnya kuat juga. Akan tetapi kalau dalilnya lemah sekali atau bahkan dianggap sebagai kelalaian, maka tidak dianjurkan untuk dihindari khilafnya. Sebagai misal: Mengucapkan niyat ketika hendak wudlu, atau sholat, tidak disunnahkan bagi kita untuk melakukannya, walaupun dalam mazhab Syafi’i, mengucapkan niyat sunnah, hal ini dikarenakan dalil atau alasan mereka sangat lemah.([14])
Masalah-masalah kontemporer.

Tidak kita pungkiri, bahwa metode kehidupan yang ada pada zaman sekarang telah banyak berubah dengan metode kehidupan yang ada pada satu abad silam, apalagi dengan yang ada pada zaman Nabi e. kenyataan ini dapat kita lihat dan buktikan melalui study banding antara berbagai metode transaksi dan interaksi yang disebutkan dalam berbagai hadits dengan yang ada pada zaman sekarang.
Sebagai contoh: Sering kita membaca hadits yang mengharamkan jual beli dengan cara mulamasah,([15]) Nah kalo kita renungkan dan kita bandingkan dengan kenyataan yang ada pada zaman kita sekarang, mungkin kita akan berkata, mustahil pada zaman sekarang ada seorang pedagang yang menjual barangnya ditempat gelap, karena lampu listrik telah dinikmati oleh kebanyakan manusia, walupun yang tingggal dilereng-lereng gunung. Akan tetapi, kalo kita sedikit memikirkan alasan diharamkannya mulamasah, kita akan berkata sebaliknya. Karena alasan haramnya mulamasah, adalah terjadinya jahalah (ketidak jelasan) pada barang yang dijual. Dan hal ini justru dapat terjadi pada toko-toko yang memiliki lampu penerangan yang berwarna-warni, sehingga barang yang berwarna coklat tua, terlihat berwarna coklat muda, dan yang berwarna krem, terlihat putih, baju kusut lagi kasar, terlihat halus mengkilat, dsb.
Contoh lain: Bila kita tidak memiliki uang, dan memiliki barang berharga, kendaraan, rumah atau tanah, dan sering kali kesusahan untuk mendapatkan pinjaman, sehingga tidak jarang kita menempuh jalan lain, yaitu dengan mendatangi kantor-kantor pegadaian, guna menggadaikan aset kita tersebut, tindakan kita ini diistilahkan Ar Rahnu (penggadaian). Mungkin sering sekilas kita akan berkata, bukankah kita dibolehkan menggadaikan barang? Akan tetapi bila kita melihat fakta dan praktek-praktek pegadaian yang ada dinegri kita, niscaya kita akan berkata lain, karena yang terjadi, pegadaian mengambil keuntungan (bunga) dari kita, dengan berbagai alasan dan cara. Dan kalau sudah jatuh tempo, dan kita tidak dapat melunasi hutang kita, maka aset kita itu, mereka jual dengan harga yang telah mereka tentukan, bukan dengan harga yang semestinya di pasaran. Hal ini menjadikan kita berkesimpulan lain tentang sistem pegadaian tersebut, kesimpulan yang didasari oleh sebuah kaidah:
كل قرض جر نفعا فهو ربا
“Setiap piutang yang mendatangkan manfaat, maka itu adalah riba”.
Dan banyak lagi masalah-masalah yang serupa dengan yang disebut diatas, misalnya: hukum jual beli surat berharga, saham, perbankkan, berbagai transaksi model baru, semacam MLM (multi level marketing), transaksi jual beli menggunakan berbagai alat komunikasi masa kini, mencangkok organ manusia, berbagai masalah dalam dunia kedokteran, dll. Fenomena ini mengharuskan kita memahami dan mengetahui bagaimana metode menghubungkan masalah-masalah baru (kontemporer) dengan masalaha-masalah yang disebutkan dalam dalil-dalil dan kitab-kitab ulama’, pekerjaan ini diistilahkan dengan At tashwirul fiqhy & At Tanzilul fiqhy.
Realita ini, tidak berarti seseorang tidaklah dikatakan sebagai ulamak, kecuali bila telah menguasai berbagai permasalahan kontemporer ini, karena kekurangan dalam hal ini dapat dipenuhi dengan mendatangkan para pakar dan ahli dalam setiap permasalahan, sebagaimana yang diterapkan oleh Badan Riset dan Fatwa di Kerajaan Arab Saudi dan juga oleh berbagai badan perkumpulan ulama-ulamak fiqih di berbagai negri islam.
Ibnul Qayyim berkata: “Seorang mufti dan seorang hakim tidak mungkin dapat berfatwa atau memutuskan dengan benar, kecuali bila ia menguasai dua macam pemahaman: pertama: memahami dan mengetahui realita kejadian, dan menarik kesimpulan dari hakikat kejadian yang terjadi dengan menggunakan berbagai tanda dan indikasi yang ada padanya, hingga ia benar-benar menguasai ilmu tentangnya. pemahaman kedua: memahami kewajiban (yang harus diterapkan) pada kejadian itu, yaitu dengan memahami hukum Allah yang Ia putuskan dalam kitab-Nya atau memalui lisan Rasul-Nya tentang kejadian ini. Dan kemudian ia mencocokkan antara kedua pemahaman ini. Barang siapa telah mengerahkan seluruh daya dan upayanya guna menguasai kedua pemahaman ini, niscaya ia meraih dua atau satu pahala”.([16])

Kesempurnaan sulit dicapai.

Sebagaimana yang kita dapatkan dan rasakan, betapa banyak kekurangan dan kelemahan yang ada pada diri kita sendiri, hal serupa juga dialami oleh orang lain. Fenomena ini menuntut kita untuk mengakui kekurangan dan siap menerima kekurangan dari orang lain. Tidak mungkin kita mendapatkan orang yang sempurna, dan tidak mungkin kita menemukan kawan yang tidak memiliki kekurangan. Oleh karena itu nabi e bersabda:
كل ابن آدم خطاء وخير الخطائين التوابون. رواه أحمد والترمذي وابن ماجة وصححه الحاكم
“Setiap anak Adam sering melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat (kembali kepada kebenaran)”. (HR Ahmad, At Tirmizy, Ibnu Majah, dan dishohihkan oleh Al Hakim).
Akan tetapi, kadang kala kita terjerumus kepada satu sikap yang mengherankan, yaitu: menuntut orang lain untuk memaklumi kekurangan dan kekeliruan kita, akan tetapi kita sendiri tidak siap untuk menerima kenyataan bahwa kawan kita memiliki kekurangan.
Sebagai salah satu sikap yang -menurut hemat saya- tidak obyektif, bila salah seorang dari kita hendak mencari pasangan hidup, kita membuat berbagai persyaratan kriteria yang, mungkin hanya ada pada bidadari, cantik, pandai, sholehah, trampil, kaya raya, putih, muda belia, berdarahkan biru, menyandang gelar pendidikan tinggi dsb. Akan tetapi, di sisi lain, kita enggan untuk menoleh dan meraba tengkuk sendiri, sambil bertanya: Siapakah aku?! Kita hanya bisa membayangkan dan menghayal, kapankah aku dapat meminang seorang bidadari?, tanpa bertanya: apakah mahar seorang bidadari? Mungkin ini yang menjadikan kita kebingungan, bagaimana dan dengan siapa saya harus menikah, bidadari dari langit mana yang harus saya nikahi?
Akan tetapi, mari kita lihat dan simak bersama realita yang Nabi e gambarkan, dan hendaknya menjadi pedoman bagi setiap kita dalam mencari pasangan hidup dan memperlakukannya:
عن أبي هريرة قال قال رسول الله e: (لا يَفْرَكْ مؤمن مؤمنةً إن كره منها خلقا رضى منها آخر) رواه مسلم
“Dari Abi Hurairah, ia berkata: Rasulullah e telah bersabda: “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah, (karena) bila ia tidak menyukai satu perangai padanya, pasti ia menyukai perangainya yang lain”. (HR Muslim)
Dalam hadits ini, kita (kaum laki-laki) mendapatkan sebuah pelajaran penting tentang realita kaum muslimah, yaitu: setiap muslimah pasti ada padanya beberapa perangai yang membuat suaminya suka, walaupun disisi lain ia memiliki perangai yang kurang disenangi. Fenomena ini dijadikan oleh Nabi e sebagai pedoman bagi kaum muslimin dalam mensikapi kaum muslimat, terutama istri-istri mereka. Hal ini juga membuktikan kepada kita (kaum laki-laki) bahwa, khayalan dan impian sebagian orang, ingin mendapatkankan seorang istri yang sempurna, bak bidadari yang turun dari surga, tidak akan pernah terwujud didunia fana ini.
Oleh karena itu, menurut hemat saya, apabila kita mencari pasangan hidup, hendaknya kita mempersiapkan mental dan i’tikad kita, guna menghadapi kekurangan dan beberapa perangai calon istri kita yang kurang disukai.
Contoh lain: Kita sering mengucapkan kritikan kepada orang lain, dengan berkata: seharusnya ia berbuat demikian, demikian, akan tetapi kita jarang atau bahkan enggan untuk mengatakan kepada diri sendiri: dapatkan saya melakukan seperti yang ia lakukan? apalagi mendengarkan kritikan orang lain. Di negri kita ada sebuah pepatah: penonton lebih pandai daripada pemain.
Fenomena ini hendaknya senantiasa kita ingat, agar kita tidak gampang kecewa dan dapat berhubungan dengan orang lain dengan baik. Walaupun hal ini tidak menutup pintu kitrik membangun, dan nasehat menasehati dengan cara yang baik lagi sopan. Semboyan kita adalah:
سددوا وقاربوا وأبشروا. رواه البخاري ومسلم
“Tempuhlah jalan yang benar, berusahalah sekuat tenaga, dan berikanlah kabar gembira (kepada yang beramal, bahwa ia akan mendapatkan pahala)”. (HRS Bukhory dan Muslim). والله أعلم بالصواب
Semoga tulisan ini menjadi pilar bagi kita dalam menuntut ilmu, dan menempuh perjalanan dakwah kita. Dan saya mengharapkan dan sangat berterima kasih, bila ada dari saudaraku yang mendapatkan kesalahan atau kritikan pada tulisan ini, hendaknya ia menyampaikannya, tentunya dengan metode dan etika yang ilmiyah. Semoga sholawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabat.
Madinah, 22 Ramadhan1425 H
Penulis :

Muhammad Arifin Badri.
([1]) Lihat Raudhotun Nadlir 2/10, Irsyadul fuhul1/112
([2]) Lihat As Syarhul Mumti’ 2/5.
([3]) Lihat Raudhotun Nadlir 2/15, Irsyadul fuhul1/113.
([4] ) Lihat Al Asybah Wa An Nazhoir 141, Al Mantsur 2/214, Irsyadul Fuhul 1/361.
([5])Al Ihkam Fi Tamyizil Fatawa ‘Anil Ahkam 232, I’ilamul Muwaqi’in 3/77-78.
([6]) I’ilamul Muwaqi’in 4/228.
([7]) Idem 3/78.
([8]) lihat Al Ihkam Fi Tamyizil Fatawa ‘Anil Ahkam 232, I’ilamul Muwaqi’in 4/228.
([9] ) Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, At Thobrony, Al Baihaqy dll.
([10]) Lihat Al Mughny149, Al Inshof 2/48.
([11]) Lihat Al Majmu’ 3/289, Mughni muhtaj 1/157.
([12]) Lihat Al Um 1/230, Al Aziz 2/283, Al Majmu’ 4/388.
([13]) Lihat Qowaidul Ahkam fi Masholihil Anam 1/215-216, Al Asybah wa An Nazloir 136-137.
([14]) Idem.
([15]) yaitu menjual barang pada tempat yang gelap gulita, sehingga tidak mungkin bagi penjual atau pembeli untuk menyaksikan barang yang hendak dibeli dengan baik.
([16]) I’ilamul Muwaqi’in 1/87-88.